cerita mbun

Tips Menjaga Konsistensi Menulis di Bulan Puasa


Menjaga konsisten saat puasa

Ketika rasa lelah datang, tetapi keinginan untuk tetap menulis tidak boleh berhenti.
Bukan puasa selalu membawa suasana yang berbeda. Aktivitas tetap sama, namun kondisi tubuh yang berbeda. Pola makan dan tidur berubah karena ada waktu makan sahur dan berbuka puasa.

Saat puasa, energi terasa cepat habis dan konsentrasi menurun. Sering merasa lelah di awal, tapi kalau sudah dijalankan tidak akan terasa hingga waktu magrib tiba.

Bagi sebagian orang justru puasa akan terasa berat jika terus rebahan daripada melakukan aktivitas. Lagi pula pekerjaan tetap harus dikerjakan dan tanggungjawab tetap harus dilakukan.

Apalagi bulan puasa kali ini ada yang berbeda. Meski tidak puasa karena sedang masa nifas, tetap saja kondisi badan yang tak lagi sama. Luka pasca operasi sesar yang masih terasa perih, harus mengurus bayi dan menjaga hati anak pertama bukanlah sesuatu yang mudah.

Dari semua kerepotan itu, ada satu hal yang ingin masih tetap aku lakukan yaitu menulis blog. Bagaimana caranya aku menjaga konsistensi menulis di tengah kondisi yang tidak mudah dan godaan menunda itu begitu kuat? Simak ceritaku sampai akhir ya!




Makna Konsistensi

Sering kali kita berpikir bahwa konsistensi berarti melakukan sesuatu dalam jumlah besar setiap hari. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu. Konsistensi justru sering dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara berulang.

Dalam menulis, misalnya. Tidak harus selalu menghasilkan artikel panjang setiap hari. Kadang cukup menulis satu paragraf, mencatat satu ide, atau menyusun beberapa kalimat pembuka. Mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dilakukan terus-menerus, langkah kecil itu perlahan membentuk kebiasaan yang bisa menjadikan kita blogger yang merdeka
Memulis di tengah rasa haus dan lapar


Di bulan puasa, makna konsistensi terasa lebih dalam. Saat energi tidak selalu penuh dan tubuh terasa lebih cepat lelah, keputusan untuk tetap menulis menjadi sebuah latihan kesabaran. Kita belajar menerima bahwa kondisi tidak selalu ideal, tetapi tetap berusaha melakukan yang terbaik dengan kemampuan yang ada.

Menulis di tengah rasa lelah juga menjadi latihan komitmen pada diri sendiri. Komitmen untuk tidak mudah menyerah, komitmen untuk tetap berjalan meskipun pelan, dan komitmen untuk menjaga kebiasaan yang sedang dibangun.

Dari situlah aku mulai memahami bahwa konsistensi bukan tentang seberapa besar langkah yang kita ambil, tetapi tentang keberanian untuk terus melangkah, sekecil apa pun itu.


Tips Menjaga Konsistensi MenMenulis

Pernah dengar kan istilah, yang sulit itu mempertahankan? Bukan hanya hubungan yang harus dipertahankan, dijaga dan dirawat, tapi menulis juga! 

Menulis di bulan puasa tentu memiliki tantangan tersendiri. Ketika energi tidak sekuat hari biasa, rasa lelah lebih cepat datang dan fokus juga kadang menurun. Namun dengan beberapa cara sederhana, kebiasaan menulis tetap bisa dijaga meskipun sedang berpuasa.

Jangan biarkan rasa malas menghampiri. Karena kalau sudah dikuasai malas, biasanya akan keterusan. Ini cara yang biasa aku lakukan menjaga konsistensi menulis saat puasa. 

1. Manfaatkan Waktu Terbaik

Setiap orang memiliki waktu paling produktif yang berbeda. Di bulan puasa, waktu ini juga bisa berubah. Ada yang merasa lebih fokus setelah sahur ketika pikiran masih segar, ada juga yang lebih nyaman menulis di malam hari setelah berbuka dan beristirahat.

Menemukan waktu terbaik untuk menulis akan membantu menjaga konsistensi. Ketika menulis dilakukan pada waktu yang tepat, ide biasanya lebih mudah mengalir dan proses menulis terasa lebih ringan.

Kalau aku lebih suka menulis di malam hari, saat perut sudah terisi dan anak juga sudah tidur, hehe. Biasanya siang hari dipakai untuk edit atau sekedar riset. Kalau nulis malam bisa sambil ngopi kan, wkwkwk. 


2. Tetapkan Target yang Realistis

Saat berpuasa, tubuh membutuhkan lebih banyak energi untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Karena itu, penting untuk menetapkan target menulis yang realistis.

Tidak perlu memaksakan diri menulis artikel panjang setiap hari. Tidak usah memaksakan menulis setiap hari jika belum sanggup. Kita bisa memulai dari satu bulan sekali, satu minggu sekali atau tiga hari sekali sesuai kemampuan. 

Jangan lupa catat ide agar menulis jadi lebih mudah dan efisien. Aku biasanya menulis tema yang akan aku tulis dalam satu bulan, lalu aku riset yang akan aku tulis lebih dulu. 

Terbiasa menulis challenge dengan tenggat waktu tertentu, membantu aku terbiasa dengan deadline. Coba buat deadline sendiri agar lebih membantu. 

3. Buat Jadwal Menulis

Menentukan waktu khusus untuk menulis bisa membantu membangun rutinitas. Misalnya menulis selama 20–30 menit setelah sahur, menjelang berbuka, atau di malam hari setelah semua aktivitas selesai.
Mencatat ide yang muncul

Dengan adanya jadwal, menulis menjadi bagian dari rutinitas harian sehingga tidak mudah terlewatkan meskipun sedang sibuk atau lemas karena puasa. Terbiasa membuat jadwal bisa membuka peluang karir dalam ngeblog loh, kamu jadi lebih disiplin jika sedang mengerikan job tulisan. 


4. Fokus Saat Menulis

Ketika waktu menulis sudah tersedia, usahakan untuk benar-benar fokus pada tulisan yang sedang dikerjakan. Mengurangi distraksi seperti membuka media sosial atau mengecek notifikasi ponsel dapat membantu proses menulis berjalan lebih lancar.

Dengan fokus yang baik, waktu menulis yang singkat pun bisa dimanfaatkan secara maksimal. Kamu bisa mematikan notifikasi media sosial terlebih dulu agar tidak mudah tergoda untuk melihatnya. 

Jujur ini sulit banget karena ada perasaan yang sebentar-sebentar ingin melihat medsos, ehh malah scroll dan nggak berasa sudah satu jam berlalu. Makanya aku selalu riset di awal agar tidak mudah tergoda untuk melihat medsos. Rugi banget kan kalau satu jam waktu terbuang hanya untuk scroll


5. Jangan Menunggu Mood

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam menulis adalah menunggu mood datang terlebih dahulu. Padahal kenyataannya, mood sering muncul setelah kita mulai menulis.

Meskipun sedang berpuasa dan merasa sedikit lelah, cobalah untuk tetap memulai menulis. Dari beberapa kalimat pertama, biasanya ide akan mulai berkembang dengan sendirinya.


6. Tidak Harus Sempurna

Tulisan yang baik tidak selalu harus langsung sempurna sejak awal. Dalam proses menulis, revisi dan perbaikan adalah hal yang wajar.

Daripada menunggu tulisan terasa sempurna, lebih baik fokus menyelesaikan draft terlebih dahulu. Setelah itu barulah diperbaiki dan disempurnakan. Endapkan tulisan untuk di edit. 

Misalkan menulis pagi hari, sore kita lanjutkan lagi untuk mengedit. Ide jadi lebih fresh dan tulisan lebih mengalir. 


Kesimpulan

Puasa mengajarkan kesabaran dan pengendalian diri. Begitu juga dengan menulis, yang mengajarkan komitmen untuk tetap berjalan meskipun pelan. Ketika keduanya berjalan bersamaan, kita belajar bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan kesempatan untuk melatih disiplin dan ketekunan.

Menjaga konsistensi menulis di bulan puasa memang bukan hal yang mudah. Kondisi tubuh yang berbeda, rasa lelah yang lebih cepat datang, serta berbagai tanggung jawab yang harus dijalankan sering kali membuat kita ingin menunda. Apalagi ketika keadaan tidak selalu ideal, seperti yang aku rasakan saat menjalani masa nifas sambil mengurus bayi dan keluarga.

Namun, dari proses itulah aku belajar bahwa konsistensi tidak harus selalu berarti melakukan sesuatu dalam jumlah besar. Langkah kecil yang dilakukan secara berulang justru jauh lebih berarti. Dari mulai mencatat setiap ide yang datang adalah bagian dari diri yang terus ingin bertumbuh. 

Pada akhirnya, menjaga konsistensi menulis bukan hanya tentang menghasilkan tulisan, tetapi tentang membangun kebiasaan baik yang akan terus berkembang dari waktu ke waktu. Selama kita tetap berusaha menulis, sekecil apa pun langkahnya, perjalanan itu tetap berjalan.

Yuk, coba terakan cara menjaga konsistensi menulis di bulan puasa yang biasa aku lakukan. Apakah kamu punya tips yang lain? Share di kolom komentar ya! 



#TheCupuersIsBack 
#RamadanSoulJourney 
#BloggingAsIbadah

Related Posts

Posting Komentar