Tidak semua Blogger langsung tahu niche apa yang ingin mereka pilih. Begitu juga denganku. Bahkan untuk menyebut diri sebagai Blogger saja masih ragu. Rasanya tulisan masih sedikit dan belum sebagus teman-teman lain.
Awalnya aku hanya ingin menulis, menuangkan cerita, dan menyimpan berbagai pengalaman hidup dalam bentuk tulisan. Namun, saat kelas Blogspedia dijelaskan pentingnya memilih niche dalam blog. Saat itu masih bingung, mbak Marita selaku coach Blogspedia mengatakan pilih niche yang relate dengan kita dan kita nggak kesulitan untuk menulisnya.
Namun semakin sering menulis, aku mulai menyadari bahwa banyak dari tulisanku selalu kembali pada satu tema yang sama, yaitu cerita tentang kehidupan sebagai seorang ibu. Sebagai ibu rumah tangga yang lebih banyak kegiatan di rumah, tentu saja aku lebih banyak menceritakan tentang keluarga. Tulisanku berawal dari kegelisahan yang aku rasakan.
Mungkin jika aku belajar blog saat masih kuliah, aku akan lebih banyak bercerita tentang kehidupan kampus. Ya, walaupun sesekali aku sering menyelipkan cerita saat kuliah dulu. Maklum, emak-emak ini emang selalu rindu kampus dan berharap jadi mahasiswa lagi, hehe doain ya.
Dari situlah aku mulai bertanya pada diri sendiri, mungkin inilah sebenarnya arah tulisan yang paling dekat denganku.
Awalnya Menulis Apa Saja
Di awal perjalanan blogging, aku termasuk tipe yang menulis tanpa banyak batasan. Selama ada ide, aku tulis saja. Rasanya menyenangkan bisa menuangkan pikiran tanpa harus terlalu memikirkan apakah tulisan itu sesuai dengan niche tertentu atau tidak. Karena dulu sebelum belajar blog, belum tahu apa itu niche.Namun setelah mulai belajar lebih dalam tentang dunia blogging, aku jadi tahu ada istilah “niche”. Katanya, blog yang memiliki niche akan lebih mudah dikenali oleh pembaca. Niche juga membantu kita lebih fokus dalam membuat konten.
Awalnya aku sempat bingung. Haruskah aku membatasi diri hanya pada satu topik? Bukankah menulis itu harusnya bebas?
Pertanyaan itu sempat membuatku ragu. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, sebenarnya cara menentukan niche bukan berarti membatasi diri. Justru niche membantu kita menemukan arah yang lebih jelas dalam menulis.
Sekarang kalau menulis, bukan hanya memilih niche, tapi membuat outline, keyword dan perintilan lain yang lebih teknis. Hal ini yang membuat aku semakin percaya diri menjadi Blogger. Ilmu itu tak terbatas dan luas sekali ya, nggak pernah aku bayangkan bisa belajar blog yang selama ini aku impikan.
Menyadari Banyak Cerita Tentang Parenting
Tanpa aku sadari, sebagian besar ide yang muncul dalam pikiranku sering berkaitan dengan kehidupan sebagai ibu.Mulai dari pengalaman mengasuh anak, menghadapi tantangan sebagai orang tua, sampai momen-momen kecil yang terjadi di rumah. Hal-hal yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sering kali menyimpan pelajaran yang berharga.
Kadang aku menulis tentang kebiasaan anak yang unik. Kadang tentang tantangan mengatur waktu antara keluarga dan pekerjaan. Kadang juga tentang perasaan sebagai ibu yang tidak selalu mudah dijelaskan.
Ternyata dari situlah aku mulai menyadari sesuatu. Banyak pengalaman dalam kehidupan sehari-hari yang sebenarnya bisa menjadi cerita dan pembelajaran bagi orang lain.
Menulis dari Pengalaman Sendiri
Salah satu hal yang membuat niche parenting terasa tepat untukku adalah karena sebagian besar tulisannya berasal dari pengalaman sendiri.Aku tidak perlu terlalu memaksakan ide atau mencari topik yang jauh dari kehidupanku. Banyak cerita datang dari kejadian sehari-hari yang aku alami bersama anak dan keluarga.
Tulisan parenting ikut tumbuh seiring pertumbuhan anakku. Misalkan saat usia Aqlan dua tahun, aku banyak menulis parenting seputar anak usia2 tahun. Selain menulis pengalaman, niche parenting membuatku riset lebih dalam tentang pertumbuhan anak.
Memang tidak selalu sempurna, setidaknya aku jadi belajar tentang pengasuhan anak. Meski kadang tak ideal, parenting jadi ilmu yang aku diskusikan juga bersama suami.
Menulis dari pengalaman pribadi juga membuat proses menulis terasa lebih jujur. Aku bisa menuliskan apa yang benar-benar aku rasakan, bukan sekadar teori.
Kadang tulisan itu berisi cerita ringan. Kadang juga berisi refleksi dari pengalaman yang mengajarkan sesuatu. Dan justru karena berasal dari pengalaman nyata, sering kali ada pembaca yang merasa relate dengan cerita tersebut.
Beberapa komentar yang datang pun membuatku semakin yakin untuk terus menulis.
“Aku juga pernah merasakan hal yang sama.”
“Atau anakku juga seperti itu.”
Bahkan ada juga teman blogger yang menyarankan aku untuk menulis resep makan anak yang aku selalu masak untuk Aqlan soalnya anaknya kurang nafsu makan, nggak lahap seperti kalau Aqlan makan.
Hal-hal sederhana seperti itu membuatku merasa bahwa tulisan tentang parenting memang punya tempatnya sendiri.
Parenting Bukan Sekadar Cerita, Tapi Perjalanan
Kadang ada momen yang membuat kita bahagia, bangga, dan terharu. Tapi ada juga momen yang membuat kita lelah, bingung, bahkan merasa tidak percaya diri sebagai orang tua.
Semua perasaan itu sebenarnya adalah bagian dari perjalanan. Parenting juga berkaitan dengan hubungan kita dengan pasangan. Aku juga menulis tentang relationship aku dengan suami. Meski di dunia nyata nggak sellu berjalan mulus, setidaknya aku bisa menuliskan pengalaman yang mungkin bisa diambil pelajarannya.
Dan lagi-lagi banyak juga yang merasa relate. Apalagi sekarang banyak bertebaran di media sosial mengenai standar rumah tangga berdasarkan tiktok atau instagram. Melalui tulisan relationship ini aku jadi bisa memilah mana yang memang kita butuhkan dan tidak.
Melalui tulisan di blog, aku merasa memiliki ruang untuk merekam perjalanan itu. Bukan hanya sebagai cerita yang dibagikan kepada orang lain, tetapi juga sebagai pengingat untuk diriku sendiri.
Bahwa dalam proses menjadi orang tua, kita juga sedang belajar dan bertumbuh. Selain jadi orang tua, kita adalah pasangan yang juga sama-sama belajar tentang pengasuhan anak. Jadi keduanya saling berkaitan.
Semua berawal dari kebiasaan menulis, mencoba berbagai topik, belajar dari komunitas blogging, dan perlahan memahami diri sendiri.
Aku mulai menyadari bahwa niche bukan hanya tentang strategi blogging atau sekadar mengikuti tren. Niche juga bisa lahir dari pengalaman hidup yang paling dekat dengan kita.
Bagi diriku, parenting adalah bagian besar dari kehidupan sehari-hari. Maka tidak heran jika cerita tentang anak, keluarga, dan perjalanan menjadi ibu sering muncul dalam tulisanku.
Dari situlah aku semakin yakin bahwa niche parenting adalah jalan yang ingin aku jalani dalam dunia blogging.
Bahwa dalam proses menjadi orang tua, kita juga sedang belajar dan bertumbuh. Selain jadi orang tua, kita adalah pasangan yang juga sama-sama belajar tentang pengasuhan anak. Jadi keduanya saling berkaitan.
Refleksi di Balik Layar Blog
Jika melihat kembali ke belakang, perjalanan memilih niche parenting ternyata tidak terjadi secara instan.Semua berawal dari kebiasaan menulis, mencoba berbagai topik, belajar dari komunitas blogging, dan perlahan memahami diri sendiri.
Aku mulai menyadari bahwa niche bukan hanya tentang strategi blogging atau sekadar mengikuti tren. Niche juga bisa lahir dari pengalaman hidup yang paling dekat dengan kita.
Bagi diriku, parenting adalah bagian besar dari kehidupan sehari-hari. Maka tidak heran jika cerita tentang anak, keluarga, dan perjalanan menjadi ibu sering muncul dalam tulisanku.
Dari situlah aku semakin yakin bahwa niche parenting adalah jalan yang ingin aku jalani dalam dunia blogging.
Kesimpulan
Memilih niche dalam blogging ternyata bukan sekadar keputusan teknis tentang topik apa yang akan ditulis. Lebih dari itu, niche sering kali berkaitan dengan perjalanan hidup dan pengalaman yang paling dekat dengan diri kita.
Perjalananku menemukan niche parenting juga tidak terjadi dalam satu malam. Semua berawal dari kebiasaan menulis, mencoba berbagai topik, hingga akhirnya menyadari bahwa banyak cerita yang lahir dari pengalaman menjadi seorang ibu.
Dari situlah aku memahami bahwa tulisan yang paling kuat sering kali berasal dari hal-hal yang kita jalani sendiri. Ketika kita menulis dari pengalaman, cerita akan terasa lebih jujur dan lebih mudah menyentuh pembaca.
Kini aku semakin yakin bahwa niche parenting bukan hanya sekadar pilihan topik untuk blogku, tetapi juga ruang untuk berbagi cerita, belajar bersama, dan merekam jejak perjalanansebagai seorang ibu.
Dan mungkin, dari cerita-cerita sederhana itu, akan selalu ada pelajaran kecil yang bisa dibagikan kepada orang lain.
Kalau kamu sedang mulai menulis dan bingung memilih niche, yuk mulai dari hal kecil di sekitarmu! Jangan pernah ragu untuk memulai ya!
Perjalananku menemukan niche parenting juga tidak terjadi dalam satu malam. Semua berawal dari kebiasaan menulis, mencoba berbagai topik, hingga akhirnya menyadari bahwa banyak cerita yang lahir dari pengalaman menjadi seorang ibu.
Dari situlah aku memahami bahwa tulisan yang paling kuat sering kali berasal dari hal-hal yang kita jalani sendiri. Ketika kita menulis dari pengalaman, cerita akan terasa lebih jujur dan lebih mudah menyentuh pembaca.
Kini aku semakin yakin bahwa niche parenting bukan hanya sekadar pilihan topik untuk blogku, tetapi juga ruang untuk berbagi cerita, belajar bersama, dan merekam jejak perjalanansebagai seorang ibu.
Dan mungkin, dari cerita-cerita sederhana itu, akan selalu ada pelajaran kecil yang bisa dibagikan kepada orang lain.
Kalau kamu sedang mulai menulis dan bingung memilih niche, yuk mulai dari hal kecil di sekitarmu! Jangan pernah ragu untuk memulai ya!
#RamadanSoulJourney
#BloggingAsIbadah












Posting Komentar
Posting Komentar