cerita mbun

Kenalan Sama Toxic Parenting. Apa Saja Cirinya?

13 komentar
Apa itu toxic parenting

Akhir-akhir ini aku merasa jauh dan tidak punya banyak waktu dengan Aqlan. Mungkin kamu akan berpikir bagaimana bisa aku yang setiap hari di rumah sebagai ibu rumah tangga merasa tidak punya banyak waktu dengan Aqlan? Setiap hari kan yang dilihat ya Aqlan.

Meski di rumah, aku punya kegiatan dengan menulis. Ketika ada job menulis yang datang, seringkali perhatianku terpusat kepada pekerjaan. Aku harus menganalisis brief satu-satu, memulai riset, menulis draft, editing, membuat infografis hingga akhirnya bisa publish membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Seringkali Ketika banyak deadline aku lebih banyak disibukkan dengan menulis dibanding dengan Aqlan. Momen ini membuat aku merasa bersalah dan berusaha memperbaiki manajemen waktu agar tidak keteteran dan tetap memenuhi kebutuhan perasaan anak. 

Aku mulai memilah job yang masuk, tidak semua aku ambil karena aku ingat kembali big why ngeblog untuk apa. Meski tidak pernah memukul secara fisik, tapi dampak psikis lebih berbahaya dibanding fisik. Aku tidak mau menjadi orang tua yang toxic apalagi dalam mengasuh anak.

Apa Itu Toxic Parenting?

Menurut dr. Aisah Dahlan, Toxic Parenting adalah orang tua yang tidak menghormati anak dan tidak memperlakukan anaknya dengan baik sebagai individu.

Orang tua yang toxic kerapkali berdalih kalau yang ia lakukan karena sayang sama anak. “Mama tuh kaya gini karena sayang sama kamu." Padahal ada banyak cara mengungkapkan rasa sayang, bukan dengan menganggap anak tidak tahu apa-apa.

Setiap orang tua punya pola asuh sendiri. Tak jarang, saking merasa menyayangi anaknya pola asuh tersebut bisa menimbulkan toxic parenting. Toxic sendiri bukan hanya kepada teman atau lingkungan, namun dalam keluarga juga bisa terjadi yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental anak. Terkadang orang tua juga tidak sadar telah melakukan toxic dalam pengasuhan.

Toxic parenting bisa terjadi akibat dari trauma pola asuh orang tua dulu. Pola asuh yang menimbulkan depresi sehingga orang tua melakukan hal yang sama terhadap anaknya. Kita harus memutus rantai toxic parenting ini dengan memperbaiki pola asuh yang diberikan orang tua kita dulu kepada anak kita di era sekarang. 

Kalau pola asuh dulu dengan penuh ketegasan mungkin bisa membuat anak berhasil, tapi sudah tidak relevan lagi pada pola asuh zaman sekarang. Mendidik anak sesuai zamannya itu benar adanya. Bisa jadi pola asuh sekarang pun juga tidak relevan di zaman yang akan datang. Untuk itu terus belajar parenting agar kita bisa menjadi orang tua dambaan anak


Ciri-Ciri Toxic Parenting

Ekspektasi yang tinggi sama anak kerapkali membuat kita berperilaku berlebihan. Ingin anak berhasil di sekolah, menjadi anak yang disiplin, namun kitanya masih mempunyai ego yang tinggi. 
Mengutamakan kebutuhan sendiri
Bukannya tercapai malah justru hubungan dengan anak semakin jauh. Kenali yuk ciri-ciri toxic parenting seperti apa.

1. Mengutamakan Kebutuhannya Sendiri

Mengutamakan kebutuhan diri sendiri tanpa mengutamakan kepentingan perasaan anak. Aqlan juga sudah mulai bisa protes ketika aku sudah mulai sibuk dengan laptop, dia akan meminta perhatian seperti mengajak aku tidur, padahal setelah ke kamar dia tidak tidur. Pernah suatu Ketika aku sedang menulis tiba-tiba marah dan menutup laptopku. 

Perilaku tersebut adalah sinyal-sinyal anak yang membutuhkan perhatian. Kalau sudah begitu segera penuhi kebutuhannya. Aku membatasi waktu menulis agar tidak seharian perhatianku pada tulisan. Mendahulukan bermain dengan anak dan mengerjakan domestik, lalu aku baru bisa fokus dengan menulis. 

Aqlan mengizinkan aku menulis, karena aku selalu meminta izinnya terlebih dahulu jika mau menulis, tapi tidak boleh lama-lama. Sepertinya Aqlan ini memang lebih senang melihat Bundanya rebahan dibanding mencari cuan, haha.

Orang tua harus bisa membedakan mana kebutuhannya sendiri mana kebutuhan anak. Seringkali juga egois melakukan apa yang kita suka padahal anak tidak menyukainya, tetap kita memaksa harus sesuai keinginan kita. 
 
Mendisiplinkan anak tentu perlu, tetapi jika sudah memaksa sebaiknya tidak dilakukan. Memaksa hanya akan membuat anak frustasi sehingga tidak ada semangat untuk mengikuti perintah orang tua. Anak menjadi tidak kreatif.

2. Tidak Dapat Memperlakukan Anak Dengan Baik

Mentang-mentang anak masih kecil, kita tidak mau bersikap sopan kepada anak. Malah senang menghina, mempermalukan anak di depan umum dengan cara memarahinya. 

Anak bertengkar dengan temannya, tidak bertanya apa penyebabnya langsung memarahi dan menyalahkan anak dengan kata-kata yang tidak pantas di depan teman-temannya. 

"Kamu ini susah banget di kasih tau ya. Berantem mulu kerjanya!"
"Dasar si biang onar, bikin malu keluarga aja berantem terus!"

Jika Bunda ada di posisi anak, bagaimana perasaan Bunda? Tentu sakit hati bukan? Anak juga sama akan merasa demikian jika mendengar perkataan yang kasar dari orang tua yang ia sayangi. 

3. Sulit Mengendalikan Emosi

Marah dengan bereaksi berlebihan ketika anak melakukan kesalahan. Marah sama anak boleh agar anak tahu batasan untuk menerapkan disiplin, yang tidak boleh adalah bersikap berlebihan dan marah-marah tidak jelas yang bisa membuat anak ketakutan.

Mengendalikan emosi ini sangat sulit buat aku. Jika ada hal yang men-trigger diri untuk marah rasanya aku juga pengen marah-marah sama anak, apalagi tingkahnya yang luar biasa aktif tidak mau diam. Setelah aku evaluasi, biasanya aku merasa ingin meledak ketika aku dalam keadaan cape.

Aqlan cukup sering tidak sengaja menumpahkan susu. Maunya aku ketika Aqlan meminta susu, segera meminum susunya agar tidak tumpah. Alih-alih meminumnya Aqlan malah bermain hingga menyenggol susunya. Kalau aku tidak cape, aku tidak akan marah dan segera membersihkannya dengan mengganti yang baru. Toh membersihkan susu tidak sampai 2 menit kan? Buat apa marah-marah berlebihan?
Bahaya toxic parenting
Sumber: Canva
Jika aku dalam keadaan lelah dan mengantuk tetapi Aqlan tidak mau minum susu dan tidak sengaja menumpahkannya, biasanya aku akan tarik nafas dulu menunggu diri merasa lebih tenang. Baru setelah itu aku bersihkan. Pintarnya Aqlan, dia seperti merasa bersalah kalau tidak sengaja menumpahkan susu dan langsung bilang, "minta maaf Mbun". Siapa yang tidak terharu? Mau marah pun tidak jadi. 

Kita harus bisa mengendalilkan emosi agar tidak jadi orang tua yang toxic. Kalau mau marah, tarik nafas dan ambil jeda dulu, setelah tenang bicara sama anak. Anak hanya butuh dipeluk kok.

4. Mengontrol Anak

Senang mengontrol anaknya dengan ketat dan mencampuri urusan anaknya. Orang tua mengatur anaknya harus selalu melakukan sesuai kehendak orang tuanya.

Aku memahami jika orang tua ingin anaknya disiplin agar dia menjadi terbiasa dengan jadwal dan membentuknya memiliki karakter yang baik. Namun, jika tidak work pada anak tidak usah memaksa. Memaksa hanya akan membuat anak merasa di kontrol. 

Anak akan melakukan apapun yang membuat orang tuannya senang. Hingga dewasa dia akan selalu berusaha menyenangkan semua orang. Lama-lama akan membuat dirinya sulit untuk berkata tidak dan menjadi people pleasure. Tidak mau kan, Bun? 

Aku termasuk yang memberi peraturan untuk Aqlan agar dia jadi terbiasa dengan aturan yang menurutku sudah dah sesuai. Seperti harus tidur siang di jam 12. Bermain di jam tertentu, kalau sore di luar rumah, dan lain sebagainya. Tapi, kalau anaknya tidak mau tidur siang ya tidak apa-apa jangan dipaksa. Suami yang mengingatkan bahwa usia golden age ini justru kita yang mengikuti maunya anak. 

Sama halnya dengan anak sekolah, orang tua menyuruh anak mengerjakan PR setelah pulang sekolah, tapi anak tidak mau. Bisa dibicarakan baik-baik dengan anak agar anak juga merasa dihargai dan keputusanya didengar. Tetapkan waktu sama-sama dengan anak kapan harus mengerjakan tugas. Anak akan merasa dicintai.

5. Selalu Menyalahkan Anak

Orang tua selalu menyalahkan anak setiap ada masalah yang datang. Seolah anak pembawa sial, naudzubillah. Orang tua jarang mengapresiasi anak dengan pencapaian yang ia dapat. Menyalahkan anak akan membuat anak depresi dan stres. Anak menjadi bertanya kenapa ia harus dilahirkan jika selalu disalahkan.

Jelas-jelas orang tua yang salah. Tapi, karena orang tua arogan dan egois tidak ingin disalahkan jadi menyalahkan anak. Memang apa untungnya sih menyalahkan anak? Apa ada gunanya? 

6. Sering Mempermalukan Anak

Menghina anak di depan orang lain akan membuat anak sedih. Anak memiliki harga diri juga yang orang tua harus lindungi bukan malah mempermalukan anak di depan orang lain. Meneriaki anak dan membentaknya.

Teriakan Ibu bisa membuat anak kaget. Otak anak menggelembung seperti balon, membesar dan pecah. Terjadi perubahan warna yang menandai kerusakan sel. Aku pun pernah tidak sengaja membentak Aqlan, kalau inget ini menyesalnya sampai sekarang. Serem banget ya perubahan otaknya bisa membuat anak juga berubah.

7. Merasa Bersaing dengan Anak

Orang tua yang tidak suka anaknya bahagia. Mengabaikan anak dan membuatnya semakin tidak berharga. Saat anak menunjukkan prestasi, orang tua menghinanya sehingga anak merasa down dengan pencapaian yang ia miliki. "Ah, kaya gini doang mah, Mama juga bisa!"

Orang tua baik akan selalu merasa senang jika anaknya senang dan mendukung apa yang anak ingin lakukan selama yang dilakukannya berdampak kebaikan. Jangan pernah patahkan semangat anak yang sedang belajar atau mencoba hal yang baru. 

Allah berfirman dalam Surat Al Imran ayat 159: "Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjaukan diri dari sekitarmu....."

 

Kesimpulan 

Adakah ciri-ciri toxic parenting di diri Bunda? Jangan sampai rasa sayang kita sama anak membuat kita menjadi berperilaku toxic parenting yang punya bahaya besar bagi psikis anak.

Menghadapi keadaan toxic parenting memang tidak mudah, makanya kita perlu terus belajar parenting. Orang tua dan anak sama-sama belajar. Semoga Allah selalu mudahkan kita dalam mendidik amanah dari Allah. Semoga bermanfaat yaa.


Related Posts

13 komentar

  1. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami anak-anak yang sholih sholihah sehat sentosa, dan jadikanlah kami orang tua yang sholih sholihah tidak menyakitkan hati bagi anak-anak kami. Aamiin.

    BalasHapus
  2. Pribadi toksik seperti produk dari masa sebelum jadi orang tua ya..semoga kita dijauhkan dari karakter toksik apapun juga

    BalasHapus
  3. Semoga kita dapat membimbing dan mebersamai anak-anam kita dengan baik, dan semoga kita dihindarkan dari perilaku sebagai orang tua toxic.

    BalasHapus
  4. Terbiasa meminta izin kepada anak saat akan melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri itu hal yang positif. Saya merasakan sendiri, ketika akan menulis saya izin ke anak untuk mengerjakan tugas. Dia jadi terlihat menghargai kita. Kalau dekat-dekat paling hanya lihat-lihat atau komen tapi ga ganggu. Tapi kalau kita teralu lama asik sendiri biasanya mulai usil cari perhatian.

    Terima kasih sharingnya mbak. Perlu juga loh baca-baca gini buat recharge ilmu sebagai ortu. Soalnya kita mah suka lupa

    BalasHapus
  5. Ya Allah kadang diri kita sendiri yang membuat masalah. Kadang masalah anak-anak kita terjadi akibat ulah kita sendiri

    BalasHapus
  6. Ada, ya, orang tua yang bersaing dengan anak. Justru aku senang kalau anak lebih segala-galanya. Di antara ciri-ciri di atas, aku relate sama yang sulit mengendalikan emosi. Astagfirullah. Memang tidak memukul dan teriak, tetapi me-manage emosi itu sangat menantang.

    BalasHapus
  7. Harus membaca dengan lebih mendalam lagi ini, buat cek dari ciri-ciri di atas ada yang terdapat pada diri saya atau ga.

    BalasHapus
  8. Waaahh baca ini jadi makin paham tanda2 dan ciri-cirinya deh mbaakk

    BalasHapus
  9. PR banget. Makanya yaa dikatakan untuk menjadi orang tua itu sangat2 nggak mudah... Ada banyak hal yg harus kita kontrol..

    BalasHapus
  10. Hal yang paling sulit dihindari adalah mengontrol emosi dan rasa lelah. Aku pun ketika menyadari hal ini mulai memilah mana yang masih dalaam batas kemampuanku, nggak semua job aku ambil. Aku juga memikirkan nggak mau jadi orang tua yang toxic, sehingga membuat anak-anakku terluka. Aku juga selalu mengingat bahwa tugas utamaku membersamai anak-anak, sedangkan mencari cuan adalah tambahan.

    BalasHapus
  11. Terima kasih ya mbak, jadi self reminder lagi nih, yang sulit itu memang mengendalikan emosi, apalagi kondisi badan dan pikiran sedang lelah, kalau sudah seperti ini memang sebaiknya menepi dulu agar tidak mudah meledak

    BalasHapus
  12. mbak terimakasih sudah diingatkan ya :'( kalau berbicara soal parentin tu kalau kata orang jatim "kudu nangis" wkwkwk. aku masih merasa menjadi ibu yang masih banyak kurang di sana sini, yang paling aku takuti ya merusak mental anakku secara tidak disengaja

    BalasHapus
  13. Aku suka banget poin nomer 2 dan 6. Terkadang tanpa sadar ibu-ibu suka membicarakan kekurangan dan kelebihan anak dengan ibu-ibu lainnya. Terkadang anak merasa malu dan ingin protes. Orang tua juga baiknya tidak sering berbohong kepada anak, harusnya memposisikan anak sebagai individu dan menghargainya

    BalasHapus

Posting Komentar