cerita mbun

Cara Mengatasi Compulsive Shopping Disorder. Awas Kalap Belanja!

Awas kalap belanja


Siapa sih yang gak suka belanja? Sepertinya perempuan itu identik dengan belanja ya? Entah itu belanja untuk kebutuhan rumah tangga atau dirinya sendiri. Apalagi jika keuangan mendukung dan saat Harbolnas (Hari belanja online nasional) akan banyak diskon bertebaran. Wah, menggiurkan sekali untuk belanja.

Tidak ada yang salah sama belanja, karena untuk memenuhi kebutuhan hidup kita perlu belanja. Belanja memang menyenangkan kok. Rasanya kalau lagi stress pun pengennya belanja aja. Apalagi dengan berkembangnya digital, semakin mudah belanja hanya lewat ponsel pintar. Bahkan dari rumah kita sudah bisa belanja. 

Tinggal klik checkout, barang sudah sampai di depan rumah. Tapi, apa yang terjadi jika kita kalap saat belanja? Hati-hati terkena Compulsive Shopping Disorder.

Apa itu Compulsive Shopping Disorder?

Compulsive Shopping Disorder merupakan fenomena gangguan kontrol impulsif dan kecanduan terhadap perilaku. Hal ini ditandai dengan adanya hasrat membeli barang secara berlebihan. Bahkan, pelakunya sendiri tidak sadar sedang mengalami compusive shopping.

Mereka akan gelisah jika dalam kurun waktu terdekat tidak belanja. Hal tersebut bisa menimbulkan penyakit emosional seperti stress atau depresi. 

Mudahnya belanja semakin mendukung perilaku compulsive shopping yang tidak punya kontrol diri. Berakibat besar kedalam keuangan. Apakah kamu termasuk compulsive shopping? Yuk, cek ciri-ciri Compulsive Shopping

Ciri-ciri Terkena Compulsive Shopping

Belanja barang yang tidak dibutuhkan

Kalau kamu masih enggak merasa suka berlebihan dalam belanja, kenali ciri-cirinya yuk siapa tahu ada di kamu, hahaha.

1. Kesulitan Menolak Barang yang Tidak Dibutuhkan

Biasanya lapar mata. Apalagi kalau lihat baju bayi yang nyaman dan murah ada diskon, langsung pengen beli aja padahal sudah melebih budget. Kita harus tahu prioritas kebutuhan kita apa. Sehingga kita belanja barang yang kita butuhkan ajaa bukan yang kita inginkan.

2. Merasa Sangat Bahagia Ketika Belanja 

Karena belanja hanya untuk menyalurkan hasrat belanja, jadi ketika sudah belanja akan terlihat bahagia. Kebahagiaan diukur dari seringnya kita belanja. Bahaya juga ya kalau keuangan sedang menipis, sedangkan hasrat belanjanya sangat tinggi. Bisa-bisa melakukan berbagai macam cara untuk belanja. 

3. Belanja Barang yang Tidak Dibutuhkan

Rasanya pengen semua dibeli aja padahal lagi enggak butuh. Alhasil barang di rumah jadi numpuk karena sering belanja padahal tidak terpakai. Belanja sesuai barang yang dibutuhkan akan banyak manfaatnya daripada yang idka dibutuhkan.

4. Belanja dengan Melebih Batas Anggaran

Belanja berlebihan seperti ini dampaknya pada anggaran yang sudah direncanakan. Padahal pengeluaran sudah pasti, tapi pendapatan belum pasti. Bisa karena berhenti kerja atau perusahaan bangkrut dan musibah lainnya yang mengganggu stabilitas pendapatan keluarga. 

5. Menyadari Kesalahan dan Merasa Bersalah, Tetapi Besoknya Melakukan Hal yang Sama Lagi

Habis belanja melebihi anggaran dan sering belanja terus merasa bersalah, tapi besoknya gitu lagi. Ya, seperti percuma. Kalau merasa bersalah, intropeksi dalam diri dan mulai kelola keuangan dengan baik.

Cara Mengatasi Compulsive Shopping

Create a money diary

Prita Hapsari Ghozie, SE, Mcom GCertFinPlanning, CFP, QWP yang akrab disapa BunZ dalam akun instagram milik pribadinya membagikan postingan tentang cara supaya bisa lepas dari compulsive shopping. Seorang CEO & Financial Planner ini selalu membahas keuangan dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami.

Sehingga kita yang awam pun sangat terbantu dan melek soal keuangan. Mindset tentang keuangan dan prinsip-prinsipnya membuatku mengikuti akun instagramnya.

1. Take a Pause Before do Anything

Bersikap tergesa-gesa akan merugikan diri sendiri. Pastikan prinsip hati-hati ini tertanam dalam diri jika ingin membeli sesuatu. BunZ berpesan untuk jangan tergesa-gesa setiap mengambil keputusan. Pikirkan matang-matang apakah barang yang akan kita beli sesuai dengan kebutuhan dan budget yang kita punya.
"Biasakan ucapkan Bismillahirrahmanirrahim saat akan belanja."  
Kalau aku biasanya kalau mau belanja ucapkan basmallah dulu. Karena kalau lagi belanja suka lapar mata. Niatnya dari rumah mau beli A, nyampe mall malah beli A, B, C, D, hehe. Baru deh nyampe rumah lagi kerasa kalau uangnya udah habis dipakai belanja barang yang tidak perlu. Sedangkan yang kita butuhkan malah belum terbeli.

2. Create a Money Diary

Buat kamu yang merasa boros banget, kamu bisa coba Japanese art of managing money atau yang disebut dengan metode Kakebo untuk merefleksikan kegiatan finansial kita selama satu bulan. Dengan mencatatnya secara manual, anggaran yang akan digunakan atau ditabung untuk mencapai tujuan keuangan. Aku sudah melakukan perencanaan keuangan seperti motede tersebut. 

Metode ini digunakan untuk mencatat anggaran rumah tangga yang dikelola oleh ibu rumah tangga. Gak heran kalau Kakebo ini disebut juga rekening rumah tangga. Proses ini juga akan membuat kita lebih mindfulness dalam mengelola keuangan.

Sementara pengeluaran bulanan tidak bisa dihentikan, akan terus ada kebutuhan kita tiap bulannya. Apalagi yang punya anak yang masih bayi, pasti berasa banget kan kalau tiap bulan beli susu, pempers, dan cemilannya. Ehh, kok malah curhat? hihi. 
Intinya, jangan lupa untuk anggarkan living - saving - playing. Jangan semua dipakai playing ya, bisa gigit jari sebelum akir bulan, hihi.

3. Stop Using Consumption to Feel Better Emotionally

Memvalidasi perasaan kecewa, marah sedih itu memang harus ya. Tapi, jangan dijadikan alasan untuk kamu terus berbelanja sampai kamu tidak pernah merasa belanja padahal paket datang terus setiap hari ke rumah, siapa yang kaya gini juga? Hayoooh ngakuuuu.

Kejadian yang emosional gini juga bisa mempengaruhi kamu untuk bersikap compulsive shopping loh.

  • Patah hati akibat ghosting 
  • Kesal dengan atasan di kantor
  • Jebakan THR, wkwkwk
  • Gagal move on? Ehh
Apakah kamu merasa baik-baik saja ketika sudah belanja? Hati-hati yaa, kebiasaan ini harus dirubah, gak boleh lebih lanjut. Bahaya! Jangan lampiaskan amarah kamu untuk menekan tombol chekcout, jangaaaannn. Aku pernah begini juga soalnya, ketika lagi kesal sampai aku belanja banyak banget, tapi udahnya aku merasa hampa. 

4. Change Your Buying Mindset

Pahami dulu nih, kamu sebenarnya buying for value atau buying for price? Tentukan dulu apakah kamu belanja sesuai kebutuhan atau karena diskon. Setelah kebutuhan terpenuhi, boleh saja kamu pertimbangkan poin, cashback atau diskon.

Haduh ini aku sendiri juga kadang masih terjebak sama embel-embel diskon, padahal itu strategi bagi mereka si penjual. Kalau lihat ada yang diskon padahal sebenarnya saat itu aku lagi gak butuh, rasanya pengen tetep aja dibeli.

Aku selalu berpikir kalau “mumpung hari ini” atau “mumpung lagi diskon”, seolah-olah tidak akan dapat harga semurah itu dilain waktu. Mindset-nya harus dirubah. Beli sesuai dengan kebutuhan.
“Tips dari aku, saat memilih produk, brand, atau sekedar jajan juga harus memilih sesuatu yang bisa memberikan keuntungan balik lagi ke kamu, itu baru smart”-BunZ

 

5. Create a Do-able Budget

Buat budget secara bertahap sesuai cashflow kita. Seringkali budget gak realistis dan gak sesuai cashflow karena tergiur dengan belanja. BunZ memberikan perhitungan sebagai berikut:

  • Start dengan metode komitmen: 75% living: 25% saving
  • Naik kelas dengan metode: Living - saving - playing+ 50%:30%:20%
  • Goals adalah metode ZAPVIN dengan 7 pos alokasi pengeluaran
Kamu tidak didefinisikan dari pekerjaan, status pernikahan, banyaknya anak, apalagi banyaknya harta. You are YOU. Jadi, berhentilah belanja hanya demi self healing dan status. -BunZ

Penutup


Sejujurnya, tulisan ini juga sebagai reminder bagi aku yang suka belanja tapi minim budget, hahaha.

Apakah kamu juga sama seperti ciri-ciri diatas? Yuk atasi financial kita lebih baik lagi!

Related Posts

Posting Komentar