cerita mbun

Cara Cepat Anak Belajar Membaca di Rumah

Cara cepat anak bisa membaca

Pasca melahirkan anak kedua, rasanya aku semakin sibuk mengurus bayi dan rumah. Kebiasaan aku bersama Aqlan perlahan semakin berkurang. Aku merasa jauh dari Aqlan.

Biasanya kemana-mana sama Aqlan, kini seringkali Aqlan melakukan hal sendiri. Di satu sisi, aku bangga karena ia tumbuh menjadi anak yang mandiri. Namun di sisi lain, ada rasa sedih yang sulit dijelaskan. 

Kok rasanya cepat sekali dia besar?

Konon, setelah lahir adik, anak pertama memang sering terlihat lebih dewasa. Mereka belajar beradaptasi dengan keadaan dan perlahan menjadi lebih mandiri. Sebagai ibu, justru akulah yang belum sepenuhnya siap menerima perubahan itu.

Jadwal dan rutinitas aku dengan Aqlan jadi berubah. Padahal Aqlan sedang di fase yang sangat penting, yaitu membaca dan menulis. Aku khawatir berkurangnya aku mendampingi Aqlan membuat proses belajarnya jadi terhambat.

Apalagi, ada kalanya ketika ingin mengajarkan Aqlan membaca, aku sudah merasa lelah terlebih dahulu. Rasanya ingin mendampingi, tetapi energi sebagai ibu yang juga harus mengurus bayi rasanya terbatas.

Untungnya, aku kemudian menyadari bahwa anak tidak selalu membutuhkan sesi belajar yang panjang. Justru dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari, kemampuan membaca mereka bisa berkembang dengan lebih menyenangkan.

Dari situlah aku mulai mencari tahu cara cepat anak belajar membaca yang tetap sesuai dengan usianya, tanpa membuatnya merasa terpaksa.


Kapan Anak siap Membaca?

Menurutku, proses belajar membaca tidak terjadi begitu saja. Ada banyak hal yang sebenarnya sudah bisa kita bangun jauh sebelum anak benar-benar mampu membaca.

Aku pernah mengalami fase bingung menentukan kapan waktu yang tepat untuk mengajarkan Aqlan membaca.

Saat usianya belum genap 4 tahun, Aqlan pernah meminta ikut les karena melihat anak-anak yang lebih besar mengikuti kursus di sekitar rumah. Aku pun mencoba mendaftarkannya.

Ternyata setelah berada di tempat les, bukannya tertarik belajar membaca dan menulis, Aqlan justru sibuk bermain mobil-mobilan.
Proses belajar membaca

Aku akhirnya tidak mengajaknya lagi keesokan harinya. Bukan karena ingin menyerah, tetapi aku merasa saat itu ia memang belum siap. Memegang pensil saja masih belum nyaman, apalagi harus duduk dan berkonsentrasi untuk membaca dan menulis.

Dari pengalaman itu aku belajar bahwa kesiapan anak lebih penting daripada sekadar mengejar usia atau mengikuti kemampuan anak lain.

Aku tidak ingin Aqlan merasa bahwa belajar membaca adalah sesuatu yang membosankan dan membuatnya tertekan.

Bacaan pertama yang mulai aku kenalkan kepada Aqlan justru adalah Iqra. Saat berusia sekitar 4 tahun, ia mulai tertarik. Aku kemudian menawarkan kepadanya untuk ikut mengaji ba'da Magrib di TPA dekat rumah.

Tidak disangka, Aqlan bisa mengikuti apa yang diajarkan ustaznya. Dari sana, perlahan ia mulai terbiasa mengenali huruf dan membacanya.

Lalu, apa saja yang aku lakukan untuk membantu Aqlan belajar membaca?

10 Cara Cepat Anak Belajar Membaca di Rumah

Aku menyadari bahwa mengajarkan anak membaca ternyata tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang serius dan membuat anak duduk berlama-lama di depan buku.

Banyak kesempatan belajar yang bisa kita temukan dari aktivitas sederhana sehari-hari. Aku tidak menerapkan sekaligus, aku melihat bagaimana kondisi Aqlan, ketertarikan dan usianya. 


1. Kenali Kesiapan Anak

Hal pertama yang menurutku penting adalah mengenali kesiapan anak. Aku sendiri sempat bingung kapan harus mulai mengajari Aqlan membaca. Aku khawatir terlalu cepat mengajarkan justru membuat ia bosan.

Apalagi saat itu Aqlan masih lebih senang bermain daripada duduk diam dengan buku.

Jangan memaksa anak belajar membaca hanya karena melihat anak lain seusianya sudah lancar membaca. Perhatikan tanda-tanda ketika anak mulai menunjukkan ketertarikan pada huruf, buku, tulisan, atau mulai bertanya tentang tulisan yang ia lihat.

Akhirnya, aku memilih mengikuti ketertarikannya. Ketika ia mulai tertarik dengan Iqra, aku manfaatkan kesempatan tersebut untuk mengenalkan bacaan secara perlahan.

Menurutku, ketika anak sudah memiliki rasa ingin tahu, proses belajar akan terasa jauh lebih ringan dan menyenangkan.

2. Ciptakan Kebiasaan Membaca Setiap Hari

Anak adalah peniru ulung. Sering kali kita tidak perlu terlalu banyak memerintah anak untuk melakukan sesuatu. Cukup tunjukkan melalui kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari.

Kalau kita ingin anak soleh, kita harus memberikan contoh taat ibadah. Begitu juga dengan membaca. ingin anak rajin membaca, salah satu hal yang bisa dilakukan adalah memberikan contoh dengan membaca.

Kebanyakan dari kita hanya menuntut anak sempurna, sedangkan kita sebagai orang tua juga malas-malasan.

Sejak masih dalam kandungan, aku sudah sering membacakan buku untuk Aqlan. Setelah lahir, kebiasaan itu terus berlanjut. Aku mulai mengenalkan berbagai buku bacaan yang sesuai dengan usianya dan mengikuti hal-hal yang ia sukai.

Biasanya, sebelum tidur aku membacakan buku untuk Aqlan. Tidak harus lama. Meluangkan waktu sekitar 10–15 menit setiap hari menurutku sudah cukup untuk membangun kebiasaan.

Tujuannya bukan supaya anak langsung bisa membaca, tetapi supaya ia jatuh cinta terlebih dahulu kepada buku. Jadikan membaca sebagai momen bonding antara orang tua dan anak, bukan sesi belajar yang penuh tekanan.


3. Mulai Mengenal Huruf Melalui Benda di Sekitar dan Bunyinya

Belajar membaca sekarang tidak harus selalu dilakukan dengan cara duduk di depan meja dan mengeja dari buku.

Kita bisa mengenalkan huruf melalui benda-benda yang ada di sekitar anak. Bahkan, kemasan makanan kesukaannya pun bisa menjadi media belajar.

Aqlan misalnya sangat suka makaroni. Suatu hari, ia pernah salah membeli rasa karena ia belum membaca tulisan pada kemasannya. Dia ingin membeli rasa balado ternyata uangnya beli rasa pedas.

Sejak saat itu, ia mulai memperhatikan tulisan pada kemasan makanan. Ia juga sering bertanya kepadaku tentang huruf yang dilihatnya. Patokannya jika ingin membeli rasa balado ia melihat dari awalan dan akhiran huruf. Jika membeli balado berarti huruf awal “b” dan akhiran “o”.

Kadang kasian melihat ia kesulitan, tapi disisi lain ini jadi komen belajar untuk Aqlan. Ia juga merasa ini bukan beban, justru dia sangat excited untuk membaca varian rasa yang ada di kemasan makaroni.

Menurutku, cara seperti ini terasa lebih menyenangkan karena anak belajar dari sesuatu yang memang menarik perhatiannya.

Kita juga bisa mengenalkan bunyi huruf atau fonik, bukan hanya menghafalkan nama-nama huruf. Anak jadi memahami hubungan antara huruf dan bunyinya sehingga lebih mudah ketika mulai membaca kata.

4. Belajar Sambil Bermain

Dunia anak adalah bermain, maka proses belajar pun bisa dilakukan sambil bermain.
Anak bisa cepat bosan jika setiap kali belajar ia merasa sedang menjalani "pelajaran".

Belajar membaca tidak harus selalu dilakukan dengan duduk diam di depan meja. Buat suasana menyenangkan dengan mengajak anak menyusun puzzle huruf, bermain kartu huruf, mencari huruf tertentu, atau menebak kata.

Aku sering melakukan permainan “ABC 5 Dasar” dengan menghitung jari yang kita tampilkan. Pada huruf tertentu, kita menebak benda sesuai huruf tersebut. Ini efektif pada Aqlan, dengan begitu dia berpikir benda apa saja yang awalannya dari huruf a, b, c dan seterusnya.

Bahkan saat bepergian, aku sering mengajak Aqlan memperhatikan tulisan yang ada di sepanjang jalan.

"Ini huruf apa?"
"Kalau dibaca bagaimana?"


Pertanyaan sederhana seperti itu bisa menjadi permainan kecil selama perjalanan. Anak mungkin tidak merasa sedang belajar, padahal sebenarnya ia sedang berlatih mengenali huruf dan membaca kata.


5. Gunakan Buku yang Sesuai Usia dan Minat Anak

Membangun pondasi membaca

Saat pertama kali mengenalkan buku kepada anak, jangan langsung memilih buku dengan banyak tulisan. Anak biasanya lebih tertarik pada warna, gambar, dan cerita yang dekat dengan dunianya. Karena itu, pilih buku dengan ilustrasi menarik dan teks yang sederhana.

Seiring kemampuan anak berkembang, jumlah tulisan dalam buku bisa ditingkatkan secara perlahan. Aku juga membiasakan bertanya kepada Aqlan ketika ingin membacakan buku. 

"Mau baca buku yang mana? "
"Mau baca buku ini, tidak?"

Menariknya, Aqlan sering memilih buku yang sama berulang kali. Dulu aku berpikir, kok buku itu lagi? Namun ternyata membaca buku yang sama berkali-kali juga punya manfaat. Anak menjadi semakin familiar dengan cerita, kosakata, dan kata-kata yang ada di dalamnya. Jadi, tidak perlu buru-buru mengganti buku hanya karena anak terus memilih cerita yang sama.


6. Libatkan Membaca dalam Aktivitas Sehari-hari

Kita bisa memasukkannya ke dalam aktivitas sehari-hari. Selain membantu kemampuan membaca, anak juga bisa merasa dilibatkan dalam kegiatan keluarga.

Sekarang Aqlan sudah mulai bisa aku minta pergi ke warung dekat rumah. Biasanya aku memberinya catatan kecil berisi daftar belanjaan. Sambil menulis daftar tersebut, aku bisa sekaligus mengenalkan huruf dan mengajaknya membaca.

"Ini tulisannya apa?"
"Yang ini huruf apa?"


Aktivitas sederhana seperti pergi ke warung ternyata bisa menjadi kesempatan belajar yang menyenangkan.

Dulu, ketika aku masih kecil dan baru mulai lancar membaca, aku juga senang membaca tulisan apa saja yang kulihat di jalan. Rasanya senang sekali ketika tulisan yang kubaca ternyata benar.

Sekarang terjadi sama Aqlan yang mulai sering bertanya tentang tulisan di depan toko atau papan nama yang kami lewati. Dari rasa penasaran itulah kemampuan membacanya perlahan berkembang.

7. Berikan Apresiasi atas Setiap Kemajuan

Ketika anak berhasil membaca satu kata saja, jangan lupa berikan apresiasi. Bagi orang dewasa mungkin tidak penting, tapi bagi anak bisa menjadi hal yang membanggakan.

Aku teringat pesan kepala sekolah TPQ Aqlan. Beliau pernah mengatakan bahwa tidak ada salahnya memberikan hadiah ketika anak berhasil mencapai sesuatu, misalnya ketika berhasil menghafal dengan baik.

Memang hadiah sejati adalah pahala. Namun anak-anak juga terkadang membutuhkan bentuk apresiasi yang nyata. Menurutku, selama diberikan secara bijak, hadiah bisa menjadi salah satu cara untuk memotivasi anak.

Tidak harus selalu berupa barang. Pujian, pelukan, tos, atau mengucapkan, "Wah, kamu hebat!" juga bisa membuat anak merasa dihargai.

Yang paling penting, jangan membandingkan kemampuan anak dengan anak lainnya. Aku sendiri masih keceplosan mengatakan, "Teman kamu sudah pintar membaca, lho.”

Padahal dibandingkan itu rasanya menyakitkan. Orang dewasa saja tidak mau dibandingkan, bagaimana dengan anak yang masih memahami dirinya sendiri?

8. Batasi Tekanan dan Target yang Berlebihan

Daripada memaksa Aqlan untuk cepat bisa membaca, aku lebih memilih membangun pondasinya terlebih dahulu. Aku ingin ia senang melihat buku, senang mendengarkan cerita, dan memiliki rasa ingin tahu terhadap tulisan.

Ketika anak sudah menyukai buku, proses belajar membaca terasa lebih ringan. Ia tidak merasa sedang mengejar target yang harus segera dicapai.

Belajar membaca bukan sebuah perlombaan. Setiap anak memiliki kemampuan dan waktunya masing-masing. Ada anak yang cepat mengenali huruf, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Yang penting adalah terus memberikan stimulasi sesuai kemampuan anak dan menciptakan suasana belajar yang positif


9. Manfaatkan Media Belajar yang Menarik

Saat ini ada banyak media yang bisa membantu anak belajar membaca. Kita bisa menggunakan flash card, buku interaktif, puzzle huruf, permainan edukatif, hingga video atau aplikasi belajar membaca.

Aku sendiri melihat media seperti ini sebagai pelengkap, bukan pengganti peran orang tua. Media belajar bisa membantu membuat proses belajar lebih menarik, tetapi tetap perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak.

Tidak perlu menggunakan semuanya. Pilih media yang paling disukai anak dan yang membuatnya tertarik untuk belajar.


10. Konsisten adalah Kunci

Dari semua cara yang sudah aku coba, menurutku konsistensi adalah salah satu hal yang paling penting. Kegiatan membaca lebih efektif dilakukan setiap hari meskipun sedikit daripada lama tapi jarang.

Sepuluh menit membaca buku bersama setiap hari, mengenalkan satu atau dua huruf, membaca tulisan di kemasan makanan, atau mengajak anak membaca papan nama di jalan mungkin terlihat sederhana.

Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan kecil tersebut bisa menjadi bagian dari proses belajar anak. Dan yang paling penting, lakukan dengan suasana yang menyenangkan.

Penutup

Dari pengalaman mendampingi Aqlan belajar membaca, aku akhirnya menyadari bahwa "cara cepat" bukan berarti mencari metode instan agar anak langsung lancar membaca.

Cara yang terasa cepat bagi anak bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Membacakan buku sebelum tidur. Mengenalkan huruf melalui kemasan makanan. Mengajak anak membaca tulisan di jalan. Bermain kartu huruf. Memberikan apresiasi ketika ia berhasil membaca satu kata.

Sebagai orang tua, tugasku bukan membuat Aqlan menjadi anak yang paling cepat membaca. Aku ingin ia menikmati prosesnya, merasa percaya diri ketika belajar, dan yang paling penting, mencintai buku serta kegiatan membaca.

Punya pengalaman mengajarkan anak membaca? Share di kolom komentar yuk!

Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar