cerita mbun

Pengalaman Melahirkan di RSIA Dr. Djoko Pramono Karawang, Dari USG Hingga Bayi Lahir

9 komentar
Melahirkan di RSIA Dr. Djoko Pramono


Alhamdulillah bersyukur diberi kesempatan  sama Allah untuk hamil lagi. Selama ini memang doanya ingin diberi kepercayaan lagi dan Allah kabulkan.

Saat tahu garis dua dan mengetahui tanda-tanda kehamilan, aku sudah mulai merencanakan rencana persalinan. Pasalnya, karena ada riwayat operasi caesar di kehamilan sebelumnya, fasilitas kesehatan (faskes) satu tidak bisa menerima proses persalinan, jadi memang harus dirujuk ke rumah sakit.

Buatku ini merupakan previllage bagi pengguna BPJS Kesehatan sepertiku. Karena memang aku lebih merasa aman dan nyaman kalau melahirkan di rumah sakit. Peralatan yang lengkap bikin aku merasa aman kalau misalkan terjadi kondisi yang darurat.

Hingga aku mempercayakan rencana melahirkan anak kedua di RSIA Dr. Djoko Pramono yang sudah legend berdiri sejak lama bahkan waktu aku masih bayi. Kenapa aku pilih melahirkan di Dr. Djoko Pramono dan bagaimana cerita melahirkan ku di sana? Simak sampai akhir ya!


Awal Kontrol Kehamilan dan Pemeriksaan USG

RSIA Djoko Pramono merupakan salah satu rumah sakit terkenal dan terbaik di Karawang. Saking terkenalnya sampai ada jargon “Nggak afdol kalau lahiran nggak di Djoko” atau “Udah paling bener periksa hamil di Djoko aja”. 

Hahaha ada-ada saja ya netizen! Tapi memang benar adanya banyak ibu yang mempercayakan periksa kehamilan dan anak di Djoko. Sehingga rumah sakit ini semakin baik bangunan dan fasilitasnya. Saat periksa kehamilan masih ada sebagian yang masih di renovasi. 

Setahuku memang RSIA Dr. Djoko Pramono satu-satunya rumah sakit ibu dan anak di Karawang. Pegawainya begitu sabar, ramah dan sangat telaten. Termasuk para dokter kandungan dan anak yang sangat kompeten di bidangnya. Merek tidak membedakan pasien umum dan BPJS. Semua dilayani dengan baik. 

Pertama kali periksa kehamilan saat hamil Aqlan dengan dr. Budiyanto Abdul Rohim, Sp. OG. Dokternya ramah, baik dan menjelaskan dengan detail. Berasa sedang mendengarkan penjelasan dosen di bangku kuliah, hehe.

Aku bertemu beliau di rumah sakit lain saat aku periksa masalah haid sewaktu belum punya anak. Dari situ aku berniat kalau hamil ingin periksa dengan dokter Budi lagi. Toh, yang bantu periksa juga dengan bidan, jadi nggak akan canggung karena laki-laki. 

Tapi, kenapa ya dokter kandungan banyaknya laki-laki? Hehe. 

Qadarullah, hamil kedua periksa sama beliau lagi. Padahal suami sudah berpesan untuk cari dokter perempuan saja, karena ya ingin punya opini yang berbeda lagi saja. Mau periksa malah hujan terus. Akhirnya tunggu sampai hari sabtu Alhamdulillah nggak hujan. Eh ternyata hari sabtu jadwalnya Dokter Budi. Ketemu lagi deh, hehe. Emang jodoh nggak kemana, lol


Menjelang Persalinan di RSIA DR. Djoko Pramono

Sebelum pemeriksaan USG, kami ditanya bagaimana rencana persalinan kami nantinya oleh bidan. Aku cerita bahwa ingin melahirkan secara normal kalau bisa. Bidan mendukung lahiran normal asalkan kondisi aku dan bayi juga mendukung. Mungkin ini salah satu alasan kenapa banyak ibu yang mempercayakan periksa kehamilan ke Djoko karena bidan dan dokternya yang pro normal. 

Senam yoga hamil di Karawang

Bidan menjelaskan bahwa kami bisa daftar member bersalin yang diberi nama Tabulin (Tabungan Bersalin) terlebih dahulu dengan membayar 40 ribu. Dengan biaya yang terjangkau aku sudah bisa mendapatkan fasilitas yoga gratis selama kehamilan dan bisa konsultasi melalui pesan online dengan bidan di sana. Aku juga diizinkan telepon jika keadannya darurat. Senang rasanya bisa komunikasi intens dengan nakes, jadi aku merasa aman dan nyaman karena ada bidan yang selalu bisa ditanyai kapan saja. 

Selain itu, bidan juga akan keep ruangan, jika tanda kelahiran sudah tiba. Jadi ketika lahiran nanti aku tidak akan kesulitan atau kehabisan ruangan karena kamar penuh karena sudah dipersiapkan ruangannya.

Dokter Budi juga bertanya rencana persalinan ku, mau dengan cara normal atau caesar. Tentu saja aku ingin mencoba normal. Berharap aku bisa berhasil VBAC. Dokter Budi memberikan tanggapannya bahwa memang ada dua opini  yang mendukung VBAC dan tidak. Beliau termasuk yang mendukung dan mau membantu proses kelahiran bayi kami nanti. 

"Banyakin jalan dan minum ya biar cepat kontraksi." Begitu pesan beliau saat sudah selesai pemeriksaan.

Ditanya bagaimana rencana persalin membuatku merasa di dukung penuh untuk bisa VBAC. Walaupun nantinya belum tahu hasilnya, setidaknya aku merasa penuh dan semakin menikmati kehamilan ini. Seneng banget rasanya menemukan dokter dan bidan yang pro dengan VBAC. Tinggal mengupayakan usaha dari aku sendiri untuk bisa mencapai lahir normal.

Kadang terbesit di kepala rasa takut menghadapi kelahiran normal, takut dengan cerita-cerita “seram” melahirkan. Kok rasanya pengen caesar saja meskipun caesar juga sakit luar biasa, tapi setidaknya sudah terbayang dan mengalami. Di sisi lain juga takut kalau harus caesar lagi. Pokoknya mau normal atau caesar, mendekati lahiran jadi overthinking dan rasa takut mulai datang. 

Meski sudah pernah melahirkan, tetap saja bikin takut. Melahirkan bertaruh nyawa, nggak bisa disepelekan bagaimana pun caranya. Tapi jangan dibikin takut berlarut juga, karena akan mempengaruhi kesehatan fisik kita.




Proses Operasi Sesar yang Menegangkan

Disclaimer dulu ya, proses melahirkan di RSIA Dr. Djoko Pramono yang aku tulis di sini murni hasil pengalaman sendiri. Aku belum riset lebih jauh jika berdasarkan dari segi medis apakah operasi caesar yang pertama prosesnya beda atau sama. 

HPL (Hari Perkiraan Lahir) pun sudah tiba, namun aku belum juga merasakan kontraksi. Sebelum HPL aku kontrol lagi dengan Dokter Budi. Terharu, beliau bilang masih mau menunggu aku kontraksi meski sudah lewat HPL hingga akhir bulan Februari. Tapi kalau kontraksi tiba aku segera datang ke IGD saja.

Namun, untuk berjaga-jaga, aku harus memilih tanggal untuk operasi. Karena mau tidak mau jika akhir Februari tidak kunjung kontraksi, bayi harus segera dilahirkan. Aku pun memilih tanggal cantik 26 Februari, karena kalau di akhir aku makin overthinking saja. Jadi lebih baik aku caesar di awal. 

Ternyata saat hari HPL, malamnya aku merasakan mules seperti ingin BAB, tapi setelah ke kamar mandi ternyata bukan BAB. Aku langsung mengira ini kontraksi. Tapi aku tidak segera ke rumah sakit, pengalaman dari hamil pertama aku tidak ingin buru-buru pergi ke rumah sakit. Aku ingin merasakan dulu frekuensi mulesnya biar nggak menunggu lama di rumah sakit.

Besoknya aku menghubungi bidan rumah sakit dengan mengatakan kondisiku. Beliau meminta aku untuk datang ke rumah sakit agar bisa cek pembukaan. Tapi, aku memilih cek pembukaan di faskes satu saja. Rasanya kok ini masih pembukaan satu. Kalau ke rumah sakit jauh karena mulesnya masih bisa diatur.

Benar saja dicek pembukaan oleh bidan di faskes satu masih pembukaan satu. Aku kembali lagi ke rumah, masih bisa kegiatan seperti biasa dan mengantar Aqlan mengaji masih sambil menahan mules. Berharap malam sudah maju pembukaannya, tapi kok aku merasa pembukaannya nggak maju, rasa mulesnya masih sama walau terasa sakit.
IGD hamil dr. Djoko Pramono Karawang

Besoknya tanggal 25 kami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit saja. Bidan juga menyarankan untuk ke rumah sakit. Beliau juga udah keep ruangan lagi setelah kemarin dibatalkan karena tidak jadi ke rumah sakit. Terima kasih Bidan Cyda yang sudah sabar menghadapi Whatsapp aku malam-malam dan telaten mengurusi aku yang overthinking ini.

Sesampainya di IGD, benar saja pembukaan tak kunjung bertambah masih di pembukaan satu. Awalnya disuruh pulang lagi, tapi karena jadwal operasi besok akhirnya aku memutuskan untuk tetap stay saja. Aku khawatir juga kalau nunggu pembukaan malah memperburuk kondisiku. Tapi pertanyaan bidan IGD cukup mengusikku, beliau bilang “Udah nyerah, Teh mau nomal?” Hmmm gimana yaa aku sendiri juga nggak tahu harus memutuskan apa.

Beliau juga menjelaskan kalau ternyata meski sudah ada riwayat operasi caesar, hamil kedua ini seperti hamil pertama kali lagi. Beda dengan yang normal karena sudah pernah melalui jalan lahir, biasanya pembukaan lebih cepat dan elastis. Pantes saja ya pembukaan juga nggak bertambah.

Akhirnya diputuskan juga aku untuk operasi hari itu. Aku diminta puasa hingga sore. Untungnya semalam aku ikut sahur dan bangun pagi juga belum makan lagi. Jadinya aku tetap lanjutkan puasa saja meski nggak niat puasa, hehe. Puasa hingga sore, aku masih berharap pembukaan bertambah tapi  tak kunjung bertambah.

Dengan hati yang berat dan mencoba ikhlas aku terima kalau memang harus operasi. Jam 3 sore aku mulai masuk ruang tindakan untuk bersiap operasi. Rasa takut mulai datang tapi aku mencoba bersikap tenang.

Operasi dimulai dan ini hal yang paling menegangkan. Saat suntik di belakang, mulai terasa obat bius masuk menjalar melalui kaki. Bikin aku takut karena rasanya seperti muntahan air yang disempeorkan ke kaki. Berbeda dengan Aqlan saat disuntik aku merasa lega karena pembukaan lengkap sudah tidak terasa lagi.

Dokter meminta aku berdoa agar semua berjalan lancar. Tapi aku malah minta diajak ngobrol terus biar nggak tegang. Sok kenal dan malu-maluin banget bilang, "Dok ajakin aku ngobrol dong." Hahaha. 

Para dokter bekerja secara profesional. Setiap tindakan yang dilakukan selalu bilang ke pasien. Tapi hal itu justru malah bikin aku tegang.

Contohnya waktu pas bayi mau diangkat, dokter bilang “Ibu, bayinya mau lahir ya.” Seketika aku langsung mikir berarti perutku dalam keadaan terbuka. Lagi-lagi aku berusaha tenang. Prosesnya berlangsung lama hingga satu jam! Dari mulai masuk tindakan hingga operasi selesai.

Lama di ruang operasi bikin suasana tegang. Berbeda dengan Aqlan sekitar 10 menit di ruang operasi. Makanya aku berpikir kalau di caesar lagi tidak apa karena sudah merasakan waktu Aqlan tidak begitu tegang. Aku nggak tahu apakah operasi sesar anak pertama dan kedua berbeda, faktor usia atau memang kebijakan rumah sakit yang berbeda. Yang jelas operasi kedua terasa lebih sakit dan aku mengalami mual setelahnya.

Perbedaan operasi caesar anak pertama dan kedua.
Melahirkan anak kedua
  • Ruangan operasi anak pertama lebih luas dibanding anak kedua (tiap rumah sakit mungkin punya kebijakan sendiri)
  • Operasi anak pertama lebih cepat dibanding anak kedua
  • Di ruangan operasi anak pertama lebih banyak nakes dibanding anak kedua
  • Di ruangan operasi anak pertama diputar lagu yang bikin tenang dan diajak ngobrol terus sama dokter, mereka seolah-olah sedang nongkrong di cafe, sedangkan anak kedua semua serius bekerja. 
  • Pengobatan operasi caesar pertama lebih banyak menggunakan obat daripada suntik dan suntikan dengan jarum biasa. Sedangkan yang kedua lebih banyak menggunakan jarum suntik ukuran besar dibanding obat. Kalau tidak salah, obat hanya satu jenis saja. Ukuran suntik yang jumbo ini cukup membuat aku shock ditambah rasa sakit yang luar biasa. 
  • Pemilihan operasi yang kedua lebih cepat dibanding yang pertama. Mungkin karena sudah pengalaman tahu apa yang harus dilakukan dan juga obat-obatan yang berbeda. 
  • Operasi caesar pertama semua serba dilakukan mandiri karena sedang pandemi, yang kedua dilayani dengan baik saat tindakan. 
  • Saat melahirkan anak pertama, anak berada di ruang bayi. Jika ingin menyusui, aku yang harus ke ruangan bayi. Sedangkan yang kedua, satu ruangan dengan aku. Ada plus minus-nya, jika di ruang bayi aku bisa istirahat. Beda dengan yang kedua yang langsung bersama aku. Tapi itu membuat ASI jadi cepat keluar dan sekarang aku bisa menyusui full ASI. 
  • Soal makanan, aku lebih suka di rumah sakit yang pertama. Tapi tetap semua aku habiskan dengan lahap, haha. 

Kesimpulan

Melahirkan memang bukan perjalanan yang mudah, tetapi pengalaman ini mengajarkanku bahwa seorang ibu bisa menjadi jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan. Baik normal atau caesar proses melahirkan merupakan proses yang beresiko. 

Meski dengan melahirkan membuat tubuh dan emosional ibu berubah, tapi momen bayi baru lahir ini selalu mengharukan dan membuat bahagia. 

Alhamdulillah adik bayi sudah lahir dan itu sudah bikin lega. Apalagi sudah sepasang, jadi dua anak saja cukup, hihi. 

Punya pengalaman melahirkan yang serupa denganku? Atau punya pengalaman melahirkan yang lucu? Share di kolom komentar yuk bagaimana keseruannya! 



Related Posts

9 komentar

  1. Membaca cerita ini, saya jadi ikut terharu sekaligus kagum dengan perjuangan melahirkannya. Terima kasih sudah mau berbagi pengalaman yang sangat personal ini secara detail. Informasi soal fasilitas dan pelayanan di RSIA dr. Djoko Pramono ini pasti sangat membantu bagi calon ibu lain yang sedang riset tempat bersalin. Sehat selalu untuk Mbak Fida dan si kecil, ya!

    BalasHapus
  2. Saya dulu melahirkan juga caesar, anak pertama dan anak kedua, karena ads kelainan skoliosis. Alhamdulillah mereka sehat2 dan kini mereka sudah bekerja dan kuliah.

    BalasHapus
  3. Baca cerita mbak fida jadi inget cerita salah satu tanteku. Beliau juga udah pernah sesar dua kali, pas anak ketiga pengen banget lahiran normal. Alhamdulillah ditakdirkan untuk bertemu dengan bidan yang mau berjuang dan sabar nunggu kontraksi walau udah lewat HPL. Walau akhirnya dirujuk ke rumah sakit, tapi alhamdulillah akhirnya beliau berhasil lahiran normal, karena obgyn RS tersebut juga pro lahiran normal.

    Sekali lagi, selamat yaa mbak fida atas kelahiran anak keduanya. Sehat-sehat terus adeeek.

    BalasHapus
  4. Gpp ya mbak Fid, meski nggak jadi VBAC tapi ini jadi pengalaman berharga ya. Aku yakin banget pas milih untuk operasi atau normal pasti momen paling gundah gulana. Intinya yang penting baby Agis sudah lahir, sehat sempurna, cantik masya Allah. Aku lihat fotonya gumusssh banget sih.

    BalasHapus
  5. You did well Mbak! Mbak Fida sudah berusaha. Alhamdulillah anak dan ibunya lahir dengan selamat dan sehat tanpa kurang suatu apapun. Hebat banget bisa ikhlas dan legowo walaupun tidak sesuai dengan keinginan awal. Gapapaaaa banget. Emang adik bayi itu yang milih sendiri mau lahir kapan dan bagaimana, gitu kalo kata orang-orang. Hihi. Alhamdulillah udah lengkap sepasang, ganti PR sekarang. Membersamai kakak-adik di rumah dengan segenap cinta dan kasih sayang ya mbak 😍🥰

    BalasHapus
  6. It's ok mbak, mau normal atau cesar sama aja, dirimu sudah berjuang sejauh ini dan tidak perlu mendebatkannya, yang penting bayi dan mbak tetap dalam kondisi sehat wal afiat hingga kini dan nanti
    Bayi itu akan milih sendiri kok kapan dia lahir, teringat anak kedua yang beberapa kalu mau cesar tapi ga jadi dan akhirnya lahir normal, alhamdulillah pas air ketubannya habis, dia lahir, kehamilan terlama ini sih sampai batas HPL mau habis, baru lahir dia. Setiap anak punya ceritanya masing-masing kok mbak dan akan jadi kenangan indah di kemudian hari

    BalasHapus
  7. Sebelumnya kupikir semua yang lahiran caesar itu semuanya pada tidur. Ternyata ada yang tetap buka mata juga, bahkan sambil ngobrol sama dokter. Ovt-nya sampai ke sini pas bagian dokter ngasih tahu anaknya sudah lahir. Berarti pada saat itu perutnya ...

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah semua prosesnya lancar Teh Fid sampai kelahiran. Tak apa, baik caesar ataupun normal, tak mengurangi perjuangan seorang ibu dalam melahirkan buah hati. Istri saya juga pas lahiran anak ke-4 disarankan caesar oleh dokter karena kondisinya tak memungkinkan untuk lahiran normal and tnak's god semuanya berjalan lancar juga alhamdulillah

    BalasHapus
  9. Aku lahiran pertama SC dan kemungkinan anak kedua juga akan SC karena jarak anak kedua dengan pertama 4 tahun, belum masih efek dr kb juga jd badanku skrg agak besar. Apapun perjalanan menghadirkan anugrah terindah dari Allah, setiap ibu adalah ibu, semoga cepat pulih jahitannya dan tidak ada keloid ya kak

    BalasHapus

Posting Komentar