Saat tahu garis dua, aku sudah mulai merencanakan rencana persalinan. Pasalnya, karena ada riwayat operasi sesar di kehamilan sebelumnya, fasilitas kesehatan (faskes) satu tidak bisa menerima proses persalinan, jadi memang harus dirujuk ke rumah sakit.
Buatku ini merupakamerupakana previllage bagi pengguna BPJS Kesehatan sepertiku. Karena memang aku lebih merasa aman dan nyaman kalau melahirkan di rumah sakit. Peralatan yang lengkap bikin aku merasa aman kalau misalkan terjadi kondisi yang darurat.
Hingga aku mempercayakan rencana melahirkan anak kedua di RSIA Dr. Djoko Pramono yang sudah legend berdiri sejak lama bahkan waktu aku masih bayi. Kenapa aku pilih melahirkan di Dr. Djoko Pramono dan bagaimana cerita melahirkan ku di sana? Simak sampai akhir ya!
Awal Kontrol Kehamilan dan Pemeriksaan USG
RSIA Djoko Pramono merupakan salah satu rumah sakit terkenal dan terbaik di Karawang. Saking terkenalnya sampai ada jargon “Nggak afdol kalau lahiran nggak di Djoko” atau “Udah paling bener periksa hamil di Djoko aja”.Hahaha ada-ada saja ya netizen! Tapi memang benar adanya banyak ibu yang mempercayakan periksa kehamilan dan anak di Djoko. Sehingga rumah sakit ini semakin baik bangunan dan fasilitasnya. Saat periksa kehamilan masih ada sebagian yang masih di renovasi.
Setahuku memang RSIA Dr. Djoko Pramono satu-satunya rumah sakit ibu dan anak di Karawang. Pegawainya begitu sabar, ramah dan sangat telaten. Termasuk para dokter kandungan dan anak yang sangat kompeten di bidangnya. Merek tidak membedakan pasien umum dan BPJS. Semua dilayani dengan baik.
Pertama kali periksa kehamilan saat hamil Aqlan dengan dr. Budiyanto Abdul Rohim, Sp. OG. Dokternya ramah, baik dan menjelaskan dengan detail. Berasa sedang mendengarkan penjelasan dosen di bangku kuliah, hehe.
Aku bertemu beliau di rumah sakit lain saat aku periksa masalah haid sewaktu belum punya anak. Dari situ aku berniat kalau hamil ingin periksa denogn dokter Budi lagi. Toh, yang bantu periksa juga dengan bidan, jadi nggak akan canggung karena laki-laki.
Tapi, kenapa ya dokter kandungan banyaknya laki-laki? Hehe.
Qadarullah, hamil kedua periksa sama beliau lagi. Padahal suami sudah berpesan untuk cari dokter cewek saja, karena ya ingin punya opini yang berbeda lagi saja. Mau periksa malah hujan terus. Akhirnya tunggu sampai hari sabtu Alhamdulillah nggak hujan. Ehh ternyata hari sabtu jadwalnya Dokter Budi. Ketemu lagi deh, hehe. Emang jodoh nggsk kemana, lol.
Qadarullah, hamil kedua periksa sama beliau lagi. Padahal suami sudah berpesan untuk cari dokter cewek saja, karena ya ingin punya opini yang berbeda lagi saja. Mau periksa malah hujan terus. Akhirnya tunggu sampai hari sabtu Alhamdulillah nggak hujan. Ehh ternyata hari sabtu jadwalnya Dokter Budi. Ketemu lagi deh, hehe. Emang jodoh nggsk kemana, lol.
Menjelang Persalinan di RSIA DR. Djoko Pramono
Sebelum pemeriksaan USG, kami ditanya bagaimana rencana persalinan kami nantinya oleh bidan. Aku cerita bahwa ingin melahirkan secara normal kalau bisa. Bidan mendukung lahiran normal asalkan kondisi aku dan bayi juga mendukung. Mungkin ini salah satu alasan kenapa banyak ibu yang mempercayakan periksa kehamilan ke Djoko karena bidan dan dokternya yang pro normal.Bidan menjelaskan bahwa kami bisa daftar member bersalin yang diberi nama Tabulin (Tabungan Bersalin) terlebih dahulu dengan membayar 40 ribu. Dengan biaya yang terjangkau aku sudah bisa mendapatkan fasilitas yoga gratis selama kehamilan dan bisa konsultasi melalui pesan online dengan bidan di sana. Aku juga diizinkan telepon jika keadannya darurat. Senang rasanya bisa komunikasi intens dengan nakes, jadi aku merasa aman dan nyaman ksrena ada bidan yang selalu bisa ditanyai kapan saja.
Selain itu, bidan juga akan keep ruangan, jika tanda kelahiran sudah tiba. Jadi ketika lahiran nanti aku tidak kan kesulitan atau kehabisan rusngan karena kamar penuh karena sudah dipersiapkan ruangannya.
Dokter Budi juga bertanya rencana persalinan ku, mau dengan cara normal atau sesar. Tentu saja aku ingin mencoba normal. Berharap aku bisa berhasil VBAC. Dokter Budi memberikan tanggapannya bahwa memang ada dua opini yang mendukung VBAC dan tidak. Beliau termasuk yang mendukung dan mau membantu proses kelahiran bayi kami nanti.
"Banyakin jalan dan minum ya biar cepat kontraksi." Begitu pesan beliau saat sudah selesai pemeriksaan.
Ditanya bagaimana rencana persalin membuatku merasa di dukung penuh untuk bisa VBAC. Walaupun nantinya belum tahu hasilnya, setidaknya aku merasa penuh dan semakin menikmati kehamilan ini. Seneng banget rasanya menemukan dokter dan bidan yang pro dengan VBAC. Tinggal mengupayakan usaha dari aku sendiri untuk bisa mencapai lahir normal.
Kadang terbesit di kepala rasa takut menghadapi kelahiran normal, takut dengan cerita-cerita “seram” melahirkan. Kok rasanya pengen sesar aja meskipun sesar juga sakit luar biasa, tapi setidaknya sudah terbayang dan mengalami. Di sisi lain juga takut kalau harus sesar lagi. Pokoknya mau normal atau sesar, mendekati lahiran jadi overthinking dan rasa takut mulai datang.
Dokter Budi juga bertanya rencana persalinan ku, mau dengan cara normal atau sesar. Tentu saja aku ingin mencoba normal. Berharap aku bisa berhasil VBAC. Dokter Budi memberikan tanggapannya bahwa memang ada dua opini yang mendukung VBAC dan tidak. Beliau termasuk yang mendukung dan mau membantu proses kelahiran bayi kami nanti.
"Banyakin jalan dan minum ya biar cepat kontraksi." Begitu pesan beliau saat sudah selesai pemeriksaan.
Ditanya bagaimana rencana persalin membuatku merasa di dukung penuh untuk bisa VBAC. Walaupun nantinya belum tahu hasilnya, setidaknya aku merasa penuh dan semakin menikmati kehamilan ini. Seneng banget rasanya menemukan dokter dan bidan yang pro dengan VBAC. Tinggal mengupayakan usaha dari aku sendiri untuk bisa mencapai lahir normal.
Kadang terbesit di kepala rasa takut menghadapi kelahiran normal, takut dengan cerita-cerita “seram” melahirkan. Kok rasanya pengen sesar aja meskipun sesar juga sakit luar biasa, tapi setidaknya sudah terbayang dan mengalami. Di sisi lain juga takut kalau harus sesar lagi. Pokoknya mau normal atau sesar, mendekati lahiran jadi overthinking dan rasa takut mulai datang.
Meski sudah pernah mekshirkan, tetap saja bikin takut. Melahirkan bertaruh nyawa, nggak bisa disepelekan bagaimana pun caranya. Tapi jangan dibikin takut berlarut juga, karena akan mempengaruhi kesehatan fisik kita.
Proses Operasi Sesar yang Menegangkan
Disclaimer dulu ya, proses melahirkan di RSIA Dr. Djoko Pramono yang aku tulis di sini murni hasil pengalaman sendiri. Aku belum riset lebih jauh jika berdasarkan dari segi medis apakah operasi sesar yang pertama prosesnya beda atau sama.HPL (Hari Perkiraan Lahir) pun sudah tiba, namun aku belum juga merasakan kontraksi. Sebelum HPL aku kontrol lagi dengan Dokter Budi. Terharu, beliau bilang masih mau menunggu akukontraksi meski sudah lewat HPL hingga akhir bulan Februari. Tapi kalau kontraksi tiba aku segera datang ke IGD saja.
Namun, untuk berjaga-jaga, aku harus memilih tanggal untuk operasi. Karena mau tidak mau jika akhir Februari tidak kunjung kontraksi, bayi harus segera dilahirkan. Aku pun memilih tanggal cantik 26 Februari, karena kalau di akhir aku makin overthinking saja. Jadi lebih baik aku sesar di awal.
Ternyata saat hari HPL, malamnya aku merasakan mules seperti ingin BAB, tapi setelah ke kamar mandi ternyata bukan BAB. Aku langsung mengira ini kontraksi. Tapi aku tidak segera ke rumah sakit, pengalaman dari hamil pertama aku tidak ingin buru-buru pergi ke rumah sakit. Aku ingin merasakan dulu frekuensi mulesnya biar nggak menunggu lama di rumah sakit.
Besoknya tanggal 25 aku menghubungi bidan rumah sakit dengan mengatakan kondisiku. Beliau meminta aku untuk datang ke rumah sakit agar bisa cek pembukaan. Tapi, aku memilih cek pembukaan di faskes satu saja. Rasanya kok ini masih pembukaan satu. Kalau ke rumah sakitjauh karena mulesnya masih bisa diatur.
Benar saja dicek pembukaan oleh bidan di faskes satu masih pembukaan satu. Aku kembali lagi ke rumah, masih bisa kegiatan seperti biasa dan mengantar Aqlan mengaji masih sambil menahan mules. Berharap malam sudah maju pembukaannya, tapi kok aku merasa pembukaannya nggak maju, rasa mulesnya masih sama walau terasa sakit.
Besoknya tanggal 25 kami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit saja. Bidan juga menyarankan untuk ke rumah sakit. Beliau juga udah keep ruangan lagi setelah kemarin dibatalkan karena tidak jadi ke rumah sakit. Terima kasih Bidan Cyda yang sudah sabar menghadapi Whatsapp aku malam-malam dan telaten mengurusi aku yang overthinking ini.
Sesampainya di IGD, benar saja pembukaan tak kunjung bertambah masih di pembukaan satu. Awalnya disuruh pulang lagi, tapi karena jadwal operasi besok akhirnya aku memutuskan untuk tetap stay saja. Aku khawatir juga kalau nunggu pembukaan malah memperburuk kondisiku. Tapi pertanyaan bidan IGD cukup mengusikku, beliau bilang “Udah nyerah, Teh mau nomal?” Hmmm gimana yaa aku sendiri juga nggak tahu harus memutuskan apa.
Beliau juga menjelaskan kalau ternyata meski sudah ada riwayat sesar, hamil kedua ini seperti hamil pertama kali lagi. Beda dengan yang normal karena sudah pernah melalui jalan lahir, biasanya pembukaan lebih cepat dan elastis. Pantes saja yaa pembukaan juga nggak bertambah.
Akhirnya diputuskan juga aku untuk operasi hari itu. Aku diminta puasa hingga sore. Untungnya semalam aku ikut sahur dan bangun pagi juga belum makan lagi. Jadinya aku tetap lanjutkan puasa saja meski nggak niat puasa, hehe. Puasa hingga sore, aku masih berharap pembukaan bertambah tapi tak kunjung bertambah.
Dengan hati yang berat dan mencoba ikhlas aku terima kalau memang harus operasi. Jam 3 sore aku mulai masuk ruang tindakan untuk bersiap operasi. Rasa takut mulai datang tapi aku mencoba bersikap tenang.
Opera dimulai dan ini hal yang paling menegangkan. Saat suntik dibelakang, mulai terasa obat bius masuk menjalar melalui kaki. Bikin aku takut karena rasanya seperti muntahan air yang disempeorkan ke kaki. Berbeda dengan Aqlan saat disuntik aku keras lega karena pembukaan lengkap sudah tidak terasa lagi.
Dokter meminta aku berdoa agar semua berjalan lancar. Tapi aku malah minta diajak ngobrol terus biar nggak tegang. Sok kenal dan malu-maluin banget bilang, "Dok ajakin aku ngobrol dong." Hahaha.
Para dokter bekerja secara profesional. Setiap tindakan yang dilakukan selalu bilang ke pasien. Tapi hal itu justru malah bikin aku tegang.
Contohnya waktu pas bayi mau diangkat, dokter bilang “Ibu bayinya mau lahir ya.” Seketika aku langsung mikir berarti perutku dalam keadaan terbuka. Lagi-lagi aku berusaha tenang. Prosesnya berlangsung lama hingga satu jam! Dari mulai masuk tindakan hingga operasi selesai.
Lama di ruang operasi bikin suasana tegang. Berbeda dengan Aqlan sekitar 10 menit di ruang operasi. Makanya aku kalau di sesarlagi gapapa karena sudah merasakan waktu Aqlan tidak begitu tegang. Aku nggak tahu apakah operasi sesar anak pertama dan kedua berbeda, faktor usia atau memang kebijakan rumah sakit yang berbeda. Yang jelas operasi kedua terasa lebih sakit dan aku mengalami mual setelahnya.
Perbedaan operasi sesar anak pertama dan kedua.
Terharu srkai saat dokter bilang, “Selamat ya bu telah lahir bayi perempuan.” Aku mulai lega, terdengar suara tangis bayi perempuan. Alhamdulillah adik terlahir dengan menangis, itu artinya termasuk bayi yang sehat.
Setidaknya satu step sudah berhasil dilewati. Cukup lega namun tetap kepikiran bahwa perut masih dalam keadaan terbuka.
Contohnya waktu pas bayi mau diangkat, dokter bilang “Ibu bayinya mau lahir ya.” Seketika aku langsung mikir berarti perutku dalam keadaan terbuka. Lagi-lagi aku berusaha tenang. Prosesnya berlangsung lama hingga satu jam! Dari mulai masuk tindakan hingga operasi selesai.
Lama di ruang operasi bikin suasana tegang. Berbeda dengan Aqlan sekitar 10 menit di ruang operasi. Makanya aku kalau di sesarlagi gapapa karena sudah merasakan waktu Aqlan tidak begitu tegang. Aku nggak tahu apakah operasi sesar anak pertama dan kedua berbeda, faktor usia atau memang kebijakan rumah sakit yang berbeda. Yang jelas operasi kedua terasa lebih sakit dan aku mengalami mual setelahnya.
Perbedaan operasi sesar anak pertama dan kedua.
- Ruangan operasi anak pertama lebih luas dibanding anak kedua (tiap rumah sakit mungkin punya pertimbangan sendiri)
- Operasi anak pertama lebih cepat dibanding anak kedua
- Di ruangan operasi anak pertama lebih banyak nakes dibanding anak kedua
- Di ruangan operasi anak pertama diputar lagu yang bikin tenang dan diajak ngobrol terus sama dokter, mereka seolah olah sedang nongkrong di cafe, sedangkan anak kedua semua serius.
Momen Bayi Lahir
Setidaknya satu step sudah berhasil dilewati. Cukup lega namun tetap kepikiran bahwa perut masih dalam keadaan terbuka.











Posting Komentar
Posting Komentar