cerita mbun

Review Filosofi Teras: Apa-apa Jangan Dipikirin!

Penulis Henry Manampiring





Menulis memang bisa menjadi salah satu cara healing terbaik, menuangkan kata ke dalam bentuk tulisan sama dengan mengeluarkan isi pikiran yang tidak bisa kita jelaskan melalui pembicaraan. Hal yang sama dilakukan oleh Henry Manampiring, seorang penulis buku Filosofi Teras, yang bukunya merupakan best seller dan paling banyak di pinjam di Aplikai Digital.

Aku termasuk yang lucky bisa meminjamnya di aplikasi Perpustakaan Nasional secara gratis. Dari dulu ingin membaca buku ini, Alhamdulillah ada kesempatannya sekarang. Saat membacanya, aku turut merasakan hal yang sama dengan penulis yang "apa-apa dipikirin."

Buat kamu yang sering overthingking, suka memikirkan semuanya atau yang sedang depresi, kamu bisa baca buku ini demi kesehatan mental kamu yang lebih tenang dan menghargai diri sendiri.


Identitas Buku

Judul Buku: Filosofi Teras, Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini

Penulis: Henry Manampiring

Tebal: 320 halaman

Penerbit: Buku Kompas, 2019


Filosofi Teras, Sebuah Filosofi yang Sangat Relevan dengan Kehidupan Sehari-hari

Divonis menderita "Major Depressive Disoreder" atau yang kita kenal dengan depresi, membuat penulis merasa kesehatan mental ini hal yang penting, meskipun bagi masyarakat kita pergi ke psikiater merupakan hal yang tabu dan dianggap dengan gila.

Dari hasil wawancara dengan dokter spesialis kesehatan jiwa dan membaca buku, terbitlah buku Filosofi Teras yang maknanya dalam sekali. Aku merasa sangat relate dengan kondisiku, yang sangat overthingking sama sesuatu yang belum terjadi. Hal kecil saja dipikirin.

Makanya meski bukunya cukup tebal, terasa ringan dibaca karena relevan dengan kehidupan yang realistis. Meski sudah lebih dari 2.000 tahun lalu, filosofi ini masih relevan di masa kini.

Filosofi Teras berasal dari kata Stoisisme, yang bahasa sederhananya teras. Jadi orang dulu tuh senang ngobrol di teras rumah yang akhirnya muncullah filosofi teras ini. Stoisisme mengajarkan kita untuk memprioritaskan mengendalikan diri sendiri sebelum mencoba mengendalikan orang lain.

Bagaimana respon kita terhadap orang lain untuk merubah kualitas hidup kita. Walaupun orang tersebut membuat kita jengkel.

Dalam hidup, ada hal-hal di dalam kendali kita dan diluar kendali. Buku ini mencoba menjabarkan hal-hal yang fokus dalam kendali kita saja. Namun, bukan berarti kita pasrah dengan keadaan.

Saat kita mulai mengurangi memikirkan hal-hal diluar kendali kita, jadi punya lebih banyak energi untuk melakukan hal lain dibanding hal yang bikin pusing diri sendiri. Misalkan dalam berkarir, yang bisa kita kendalikan adalah bekerja dengan sebaik mungkin. Hal yang di luar kendali kita adalah penilaian atasan dan keputusan pengangkatan jabatan, hal-hal seperti itulah.
“Kamu memiliki kendali atas pikiranmu bukan kejadian-kejadian di luar sana. Sadari ini, dan kamu akan menemukan kekuatan.” -Marcus Aurelius Meditatations.
Fokus kendalikan diri sendiri, tidak terpengaruh orang lain bukan berarti kita tidak menerima kritik dan saran yang membangun dari orang lain. Tentunya hal yang baik kita bisa ambil. Opini orang lain tentang diri kita itulah sesuatu diluar kendali kita.

Kita tidak bisa kan mencegah orang lain untuk mengomentari kita? Yang bisa kita lakukan adalah menyikapi opini orang lain tentang diri kita. Pasti bukan aku saja yang pernah mengalami komentar dari orang lain.

Baru saja aku mengalaminya, dengan opini orang lain yang berkomentar kapan aku menambah anak lagi. Padahal dulu sebelum aku hamil, aku sering juga ditanya kapan punya anak. Hamil dan nambah anak sesuatu diluar kendaliku. 

Tidak semudah menyalakan sekring lampu. Apakah anak bisa aku beli dengan mudah seperti membeli buah dan sayur? Anak kucing kali ya, huhu. Memang harus punya seni bersikap bodo amat agar tidak fokus sama komentar orang lain.

Contoh yang aku alami ini tentunya bisa menghabiskan energi jika aku fokus dengan opini orang lain diluar kendaliku. Buktinya, dari aku tidak punya anak hingga memiliki anak, opini orang lain akan selalu ada dan tidak ada habisnya. Apakah kamu punya pengalaman serupa?
Filosofi Teras tidak tertarik sama sekali dengan hal-hal eksternal dan lebih mementingkan hal-hal di dalam diri kita, yaitu menghilangkan emosi negatif, memaksimalkan hidup dengan hal-hal yang benar-benar berguna dan yang bisa kita kerjakan. -hlm. 72.
Pernah ya kita bertemu orang yang menjengkelkan dalam hidup? Rasanya kok mulutnya nggak bisa ditahan komentar orang seenak jidat, tanpa memandang orang lain sakit hati atau tidak. Kalau kita fokus ke sana, sangat disayangkan sekali buang-buang energi kita aja, hehe.

Mengubah Persepsi Kita Terhadap Sesuatu

Penulis dalam hidupnya sering berpikiran negatif, hingga susah berpikiran positif sampai dibilang, “Mikirnya yang positif-positif aja” oleh orang-orang terdekatnya.

Penulis menganalogikan pada sebuah kejadian saat sedang terjadi macet. Apa sih yang biasanya kita lakukan saat macet? Pasti kita akan merasa kesal, marah, jengkel dan sambat sama kejadian tersebut. Kemacetan terasa sedang dikurung. “Kenapa lama banget sih? Buang-buang waktu saja!” Kita jadi marah-marah tidak jelas jika sedang macet.

Nah, di buku ini dijelaskan kalau daripada kita marah-marah lebih baik kita berpikir positif dan kita jadi lebih punya banyak waktu untuk membaca. Alasan ini buka alasan yang ngeles semata, namun agar kita tidak terpengaruh dengan energi negatif dan saling bertukar pikiran.

Kesimpulan

Buku Filosofi Teras sangat menarik dibaca, apalagi jika kita sedang dalam keadaan banyak dikomentari atau disudutkan oleh orang lain. Baca buku ini jadi lebih slay, dan menikmati apa yang terjadi dalam hidup. 

Banyak kejadian yang tak terduga setiap harinya, buku ini bisa jadi panduan untuk kita bisa mengendalikan pikiran kita untuk bisa mendapatkan energi positif. Aku bersyukur ada buku ini, merasa tidak sendiri ternyata bukan aku saja yang sering merasa overthingking.

Bahkan aku pernah merasa aneh karena apa-apa dipikirkan. Gimana nih, kamu tertarik juga untuk membacanya? Yuk, baca bukunya dan sharing di kolom komentar ya insight apa saja yang kamu dapat dari membaca buku Filosofi Teras.

Related Posts

10 komentar

  1. dari dulu pengen beli buku ini tapi belum kebeli juga
    baca buku ini seperti kita mendapatkan wejangan dalam menghadapi problem sehari hari ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuuk baca kak aku pinjam di Ipusnas. Betul jadi bisa lebih mengontrol diri.

      Hapus
  2. Bukunya relate banget sama aku yang sering overthinking. Hal sekecil apapun selalu dipikir bahkan hal yang belum terjadi pun. Jadi pengin beli buku ini biar bisa mengendalikan diri dari pikiran negatif.

    BalasHapus
  3. Dari dulu udah denger buku ini. Pengen baca tapi belum sempet. Kayaknya asyik nih, cocok juga dengan diriku yang suka overthinking.

    BalasHapus
  4. suamiku yang mengkhatamkan buku ini dan secara singkat akhire aku tahu ternyata isinya memang bangkit dari keterpurukan dan perlu memahami diri sendiri sebab kita adalah pengendalinya.

    BalasHapus
  5. Di rumah udah ada Filosofi Teras ini, tapi belum sempat baca. Sudah diceritain sama adik perihal isinya. Memang cocok buat aku yang suka overthingking :')

    BalasHapus
  6. Jadi inget ketika dulu sering banget duduk di teras rumah, trus ngobrol-ngobrol hangat bareng keluarga. Ini tuh jadi membekas sampe sekarang, kalau punya rumah yang ada terasnya, tapi model back yard. Tetep aja sisi introvert nggak bisa diganggu wkwk. Aku termasuk yang yang jarang OT, mgkin karena aku jarang banget interaksi dengan orang haha..jadi peluang orang mengomentari hidupku Dan terdengar ke telingaku itu kecil bangett..but overall, kata penulis emang bener lho..jangan apa-apa semua dipikirin. Biar tetep happy.

    BalasHapus
  7. Wah beruntung nih bisa pinjam di Ipunas secara antriannya banyak banget, aku sudah lama antri ini lo, nyoba antri lagi ah
    btw prinsipnya mirip mindful ya, kendalikan yang bisa kita kendalikan aja, selain itu lepaskan

    BalasHapus
  8. Mau baca buku ini tapi maunya versi fisik. buku self improvment tuh lebih asik baca fisik daripada digital

    BalasHapus
  9. Asik sih baca buku ini. Sejak mengenal filosofi teras, aku yang dulunya overthingking parah sekarang lebih santai, setelah kujalani hidup dengan stoisisme memang pikiran jadi lebih tenang.

    BalasHapus

Posting Komentar