cerita mbun

Stres Tanda Sehat Mental. Kok Bisa?

20 komentar

Cara mengatasi stres


Setiap manusia pasti pernah mengalami stres dalam hidupnya. Tidak mungkin manusia tidak mengalami masalah termasuk konglomerat sekalipun yang punya banyak uang. Tidak semua dinilai dengan uang, karena masalah juga bukan tentang memiliki harta atau tidak. Ada yang diuji dengan hartanya, pasangan, kerabat atau apapun. Ah, tapi ini bukan soal uang. 

Ini tentang bagaimana kita menghadapi masalah yang membuat kita stres. Masalah itu dihadapi, bukan dilawan. Kamu pasti sering mendengar kata-kata tersebut kan? Kata itu terdengar menyenangkan saat kita sedang baik-baik saja. Lain cerita jika kita sedang tidak baik-baik saja.

Beda lagi kalau perempuan yang bilang “I'm fine” yang berarti sedang tidak baik-baik saja. Serumit itu wanita sampai suka mengubah-ubah makna. Bilang I’m fine, padahal sedang tidak baik-baik saja. Bilang tidak mau padahal mau. Bilang terserah padahal ingin sesuatu.

Cara menjadi wanita bahagia apakah serumit itu? Ah, tapi aku mah nggak rumit kok, cuman ingin didengar aja sama dibaca tulisannya, hehe. 

Gimana...gimana kamu udah cukup bisa menentukan kalau aku lagi stres nggak dengan membaca tulisanku yang rasanya kok jadi kesana kemari? Atau kamu sendiri yang sedang membaca tulisanku ada di fase sedang stres?

Kita bisa dengan mudahnya bilang kalau orang lain sedang stres atau diri kita sedang stres. Kita perlu tahu dulu stres itu apa. Memangnya stres itu apa sih?

Disini aku akan membahas stres itu apa dan bagaimana cara kita mengelola stres hingga menjadi buku antologi. Materi tersebut dibawakan oleh seorang psikolog langsung dari AZ Publishing bernama kak Fauzia Chafitsa Anggraini, S.Psi., M.Psi dan dipandu oleh host mbak Dyah Kusuma.

Kenalan Sama Stres Yuk!

Stres sendiri berasal dari bahasa Inggris yang artinya tekanan. Kondisi stres muncul karena adanya tekanan dalam hidup baik dari internal maupun eksternal.

Tekanan tersebut bisa berasal dari tekanan sosial, tekanan batin, fisik dan tekanan lainnya yang bisa terjadi kapan saja. Bahkan stres juga bisa datang dari sendiri loh, bergulat dengan pemikiran sendiri. Pernah aku ada di fase ini, yang membuat aku menjadi tidak produktif dan merasa sesak di dada karena merasa perfeksionis.

Melihat ke belakang banyak sekali stres yang sudah dilalui. Sampai sekarang juga masih bisa terkena stres. Hidup memang tidak bisa lepas dari masalah. Selesai masalah satu, muncul masalah yang lain. Dari bisa menyelesaikan masalah satu, akan menjadi pondasi untuk menopang masalah selanjutnya.

Aku merasa bersyukur diberi ujian, dari situ aku bisa belajar bersikap dewasa dalam menyelesaikan masalah yang membuat aku stres. Stres tidak bisa dihindari. Kalau ada masalah tentunya kita bakal stres kan?

Bukan perihal stresnya, tapi bagaimana kita bisa mengelola stres tersebut. Wajar nggak sih kalau kita stres setiap hari? Atau jangan-jangan kita sudah dianggap tidak waras karena stres setiap hari?

Apalagi bagi seorang ibu yang rentan terkena stres setiap hari. Anak nggak mau makan bikin pusing dan stres. Udah cape-cape dimasakin makanan yang penuh gizi dan nutrisi serta effort yang luar biasa, malah dilepeh. Anak bertingkah lari-lari atau iseng dengan temannya bikin stres, belum urusan domestik dan keuangan yang sudah menipis di akhir bulan. 

Belum lagi dengan diri sendiri yang belum selesai pengen ini pengen itu tapi belum ada yang tercapai. Semuanya pasti bikin stres ya? Rasanya ingin menjerit yang kencang agar semua yang dipikirkan bisa keluar melalui udara, hehe.

Belum lagi hubungan kita dengan pasangan, orang tua, kerabat, tetangga yang belum tentu baik-baik saja setiap hari. Aku pernah dibuat pusing oleh hewan peliharaan tetangga yang sering masuk teras rumah dan meninggalkan kotoran. Bukan hanya bau, bagaimana nanti jika keinjek Aqlan? Hal-hal yang terlihat kecil juga bisa memicu terjadinya stres.

Stigma stres kerapkali dipandang sebagai sebuah tanda ketidakwarasan. Memangnya siapa sih yang mau stres? Aku sendiri maunya ya hidup enak, tentram, tenang damai sejahtera tanpa ada masalah sekecil apapun yang bisa membuat aku stres. Tapi nggak mungkin toh

Jelas itu stigma yang tidak tepat. Kalau bisa menyelesaikan masalah ada perasaan plong dan lega sudah berhasil melewati fase stres yang mungkin ada sebagian dampaknya terhadap fisik juga. Padahal stres itu tanda sehat mental loh. Kok bisa ya?

Ciri-ciri Stres Tanda Sehat Mental

Cara coping stres

Alhamdulillah kalau kita stres bukan berarti kita tidak waras dan dianggap gila. Justru karena itu pertanda kita sehat mental. 

Sehat menurut WHO adalah mampu mengatasi tekanan hidup sehingga tercipta keharmonisan. Kalau anak nggak mau makan, meski kita stres tapi kita jadi berpikir, bagaimana ya caranya anak mau makan? Makanan apa lagi ya yang mau dimakan sama anak? Dimasak dengan cara apalagi ya biar mau dimakan?

Berdasarkan pengalaman pribadi, stres membuat aku bisa bangkit dari keterpurukan. Aku nggak mau lama-lama tenggelam dalam kesedihan.

Berikut stres sebagai tanda sehat mental jika kamu mengalami ciri-ciri sebagai berikut:

1. Mampu Berbaur di Masyarakat atau Komunitas

Meskipun kita lagi stres kita tetap bisa mengontrol diri untuk berbaur dengan tetangga. Meski sedang dihinggapi masalah, interaksi tetap terjalin dengan masyarakat. Tidak mengurung diri berhari-hari di rumah dan tidak melakukan apa-apa. 

Jika kita stres, kita boleh memberi ruang untuk diri sendiri bersedih. Tentunya tidak boleh larut apalagi sampai membahayakan diri sendiri. Aktif di komunitas juga bisa membuat kita sesaat hilang dari rasa stres yang membuat kita bisa berpikir lebih jernih untuk menghadapinya.

2. Mengenali dan Mengoptimalkan Kemampuan Diri

Stres tak bisa menghalangi kita untuk terus mengasah kemampuan diri. Kalau lagi stres aku alihkan emosinya pada hal-hal yang aku sukai.

Termasuk blog ini bisa kamu baca karena berawal dari patah hati aku, hehe. Patah hati yang membuat stress lalu aku kelola untuk menulis yang aku sukai.

Bukan untuk membuktikannya kepada semua orang, tapi untuk mengelola perasaan yang gelisah. Bonusnya, aku jadi mulai mendapatkan job dari mengelola stress dengan cara meningkatkan kemampuan menulis. 

3. Mampu Mengatasi Tekanan Hidup 

Jika kita mampu mengatasi tekanan hidup sehingga terciptanya keharmonisan, itu artinya stres kita menunjukkan tanda sehat mental. 

Memang sulit untuk mengatasi tekanan hidup yang sangat berat. Tapi dengan kita bangkit, kita akan berdamai dengan diri sendiri.

Maka dari itu mbak Fauzia menjelaskan dalam psikologi stres terbagi menjadi dua, yaitu stres yang sehat dan tanda stres tidak sehat (distres). 

Tanda stres yang sehat sebagai berikut:
  • Memberikan perubahan positif
  • Memunculkan semangat untuk mengatasi rintangan
  • Memunculkan motivasi untuk jadi pribadi yang lebih baik
  • Ada rasa berdaya untuk mengelola stres 
  • Meningkatkan fokus untuk menemukan solusi
Alhamdulillah selama ini aku termasuk stres yang sehat karena ketika stres aku selalu berusaha bangkit kembali dan menemukan solusinya. 

Jika aku merasa stres karena tidak berdaya, aku akan cari kegiatan yang membuatku merasa berdaya dan "dianggap ada". Salah satunya dengan jalan ngeblog ini yang membuat aku merasa berdaya dan berkarya meski hanya dari rumah.

Meski membuat hati ingin menangis dan jadi pusing kepala, stres membuat kita bisa kontrol diri untuk menemukan solusinya. 

Lalu gimana tanda stres yang tidak sehat? Apakah ada tandanya di kamu? Berikut tanda-tandanya:
  • Ada rasa tidak berdaya menghadapi stresor
  • Sulit untuk fokus menemukan sumber stres dan solusinya
  • Menghasilkan rasa takut, cemas hingga depresi
  • Muncul rasa takut menghadapi dampak dari kejadian
Terlihat perbedaannya kan? Jika stres dibarengi dengan rasa bad mood setiap hari, sakit-sakitan secara fisik seperti asam lambung naik, darah tinggi dan penyakit lainnya itu tanda kita stres yang tidak sehat. Menghindari seseorang atau kejadian tertentu yang bikin mental kita down.

Aku mungkin masih bisa mengatasi Stresku karena setiap orang punya permasalahannya sendiri. Masalahku belum tentu bisa dihadapi orang lain juga sebaliknya. Kita juga tidak bisa memutuskan bahwa masalah si A lebih besar dari B atau lebih mudah dari yang lain. Hal yang bisa kita sama-sama upayakan adalah mengatasi stres. Gimana caranya?

Apa yang Dilakukan Saat Stres?

Perbedaan sehat mental kita mengelola stres dengan orang lain berbeda, maka dari itu ada yang stresnya sehat dan tidak. Ini semua tergantung bagaimana kita mengelolanya yang biasa disebut dengan coping stres.

Apa itu coping stres? Coping stres adalah cara kita untuk merespon dan mengatasi stres. Stres yang sehat biasanya terjadi karena kita berada di active coping yang menandakan stres sehat. Jika stres kita ada di wilayah negatife coping, bukan tidak mungkin lebih rentan terhadap stres yang tidak sehat.

Sebelumnya kita renungkan dulu mana yang sering kita alami stres sehat atau tidak sehat? Kamu bisa menjawabnya dalam hati tentang stres yang kita alami, dampak fisik dan psikologis yang kita rasakan dan analisa dampak tersebut termasuk ke dalam stres yang sehat atau tidak?

Menganalisis stres yang kita rasakan sambil melihat apa sih pemicunya? Berikut 3 pemicu yang terjadi saat kita merasa stres:

1. Tarik menarik antara kebutuhan yang kita sukai atau yang dibutuhkan. Misalkan kita ingin tidur, tapi juga ingin makan. Jadilah kita stres dalam kedua pilihan.

2. Tarik menarik antara yang tidak kita sukai atau butuhkan. Misalkan kita sedang sakit tapi tidak ingin minum.obat sedangkan kita harus minum obat agar segera sembuh. Hal ini terjadi juga pada Aqlan yang sulit sekali untuk minum obat. 

3. Tarik menarik antara yang dinginkan atau dibutukan serta pilihan yang tidak diinginkan atau dibutuhkan. Di rumah terus seringkali membuatku bosan, kadang pengen jalan-jalan ke luar kota tapi nggak mau pusing karena kehebohan anak yang nggak bisa diem. Aqlan itu nggak bisa diem sudah dipastikan ke tempat umum bakal lari-lari. Liburan hanya pindah tempat ngasuh aja, hehe.

Tentunya kita nggak mau ya kalau sampai mengalami distres. Terus gimana ya kita biar nggak terkena distres?

Kita bisa mengevaluasi apa sih penyebab stres kita? Dari situ kita bisa melihat pola perilaku kita saat sedang stres. Dengan begitu kita bisa mengubah stres kita menjadi lebih sehat.

Terus latihan untuk mengubah stres kita menjadi stres yang sehat mental. Kalau aku sendiri mengubahnya dengan cara menulis hingga menerbitkan buku antologi yang aku tulis bersama teman-teman penulis yang lain.

Buku Antologi Berteman dengan Stres, Cara Aku Mengatasi Stres

Definisi Buku antologi

Buku antologi ini bukan hal yang asing bagi penulis maupun Blogger. Buku antologi adalah kumpulan karya yang ditulis oleh penulis dalam satu tema yang sama. 

Dalam buku antologi Berteman dengan Stres berisi pengalaman penulis atau pengalaman orang lain yang dituliskan dalam buku antologi yang berisi 258 halaman ini. Aku tidak sendiri, ada Blogger dalam satu komunitas Blogspedia yang juga turun menorehkan penanya dalam buku tersebut.

Mbak Dyah, Blogger Surabaya yang juga sebagai penyunting yang turut andil dalam mensukseskan buku tersebut. Ada 18 penulis yang membuatku terharu dengan membaca kisahnya. Apa yang mereka lalui adalah sebuah kekuatan untuk bertahan dalam hidup. Hebat banget mereka bisa berteman dengan stres.

Cara wanita mengatasi stres

Menulis dan membaca buku ini membuat aku tidak merasa sendirian menghadapi stres. Ada begitu banyak kisah stres yang mereka hadapi. Dari bagaimana mereka menghadapinya sampai mereka kuat hingga hari ini.
"Bahagia itu menular, pun kesedihan dan kemarahan. Jangan biarkan tangki cinta itu kosong agar kau tetap berbagi kebahagiaan dan cinta." - Dyah Kusuma
Rangkaian kehidupan manusia kadang bisa menimbulkan stres. Stres adalah hal yang wajar. Meski begitu perlu dikelola dengan baik.

Kesimpulan

Kita akan mengalami stres ketika dihadapkan dengan ujian hidup dan cobaan yang membuat kita merasa tertekan, lunglai dan nggak tahu harus melakukan apa. 

Padahal kondisi stres bisa membantu kita untuk menemukan bakat terpendam termasuk terlahir buku antologi akibat aku mengalami stres. Salah satunya buku antologi Berteman dengan Stres.

Cerita kisah di buku ini adalah bukti kalau stres bisa kita kelola dengan baik dan merupakan tanda sehat mental. Bagaimana dengan kamu?

Related Posts

20 komentar

  1. Coping stres ini penting banget ya, aku juga belajar banyak untuk coping stres dan mengajarkan ke anak-anak juga.
    Dan ternyata marah itu emosi sekunder, emosi primernya bukan marah

    BalasHapus
  2. Mengelola stres dan mengenali stres ternyata menjadi hal yang mujarab untuk mengetahui potensi kita yang sebenarnya

    BalasHapus
  3. Wah ternyata begitu ya. Alhamdulillah dan semoga aja ke depannya kita semua yang di sini selalu diberikan sehat mentalnya. Oh iya anyway, mungkin bisa ditambahin nih Mbak, bahwa Mbak Diah blogger Surabaya nih Mbak Diah siapa gitu? Seingatku di Jatim ada 3 Mbak Diah blogger semua, hihihi..

    BalasHapus
  4. Isi bukunya itu nonfiksi apa fiksi kak? Semacam curhat masing2 penulis saat menghadapi stres gitu ya
    Kalau menurutku sih memanagemen stress itu juga harus disiplin, semakin berumur semakin lihai nanti menanggapi stresnya secara positif

    BalasHapus
  5. ternyata stress itu tidak selamanya negatif ya, bahkan malah stress itu juga jadi salah satu tanda bahwa mental kita itu sehat ya.

    BalasHapus
  6. Selamat yaa mbak atas buku antologinya, semoga menginspirasi para pembaca gimana mengelola stres.
    aku pernah baca satu quote bahwa bukan tentang masalah yang datang tetapi bagaimana kita bereaksi terhadap masalah tersebut. Namanya hidup ya pasti ada aja masalah, kan.

    BalasHapus
  7. Baru tahu ada stress sehat dan tidak sehat, selama ini tahunya kalau stress tuh kondisi mental yang kurang sehat, selamat ya untuk buku antologinya, sepertinya wajib dibaca nih buat kita yang ingin mengelola stres

    BalasHapus
  8. Wah ini mah judulnya kontradiktif bangets yah. Menurut pemikiranku sih ini mah yang disebut selalu ada hikmah dibalik sebuah peristiwa. Stres jadi produktif misalnya. Akibat stres jadi punya buku antoligi. Bener gak nih? Selamat atas kelahiran buku antologinya yah. Good luck

    BalasHapus
  9. Masalah, stress, adalah ujian yang mengantarkan kita jadi pribadi yang lebih kuat, aku bisa paham betul deh, hmjadinya Mba Fida mensyukuri permasalahan dan rasa stress yg pernah singgah. Eemoga kita selalu kuat ya.

    BalasHapus
  10. Aku biasanya untuk meredakan stress baca novel atau dengerin sholawat di youtube mbak. Pada kenyataannya kita selalu berhadapan dgn masalah kan ya. Tinggal bagaimana mengelolanya.

    BalasHapus
  11. Urusan stres memang perlu diredakan dan dengan cara yang tepat ya. Bisa nih dengan membaca buku biar pikiran lebih tenang

    BalasHapus
  12. Stress masih normal selama porsinya masih terukur ya, mba.
    Keren euy diingatkan tentang ini di tengah kesibukan yang menoton.

    Setuju sama kutipannya, menerima adalah kunci. Semakin menerima maka jiwa semakin lapang untuk bergerak ke hal-hal bermanfaat (positif).

    BalasHapus
  13. Benar, berteman dengan mereka bukan malah menolak mereka kaum stres.. cara kita bisa nerima kehidupan ini dengan lebih legowo..

    BalasHapus
  14. Stress menjadi tidak sehat kalau dibiarkan tidak dikelola, tidak diatasi ya, Kka. Jadi harus betul-betul bisa memahami kondisi diri sedang stress atau tidak sehingga bisa dikelola dengan baik ya

    BalasHapus
  15. Tekanan hidup memang sering intens menggencet kewarasan. Sepanjang masih bisa hidup normal memang bisa dikatakan kita bisa mengelola manajemen stress.

    BalasHapus
  16. aku salfok sama qoute nya tentang stres yang belajar menerima memang susah, tetapi akan lebih sulit jika menolaknya. Dan yeah, ketika stres melanda disaat kacau-kacaunya maka salah satu cara dengan menerima, mau lari kemanapun stress bakalan tetap menghampiri.

    congcraz kak untuk antologi bukunyaa yaa ^^

    BalasHapus
  17. Baru tahu aku kalau ada stres yang sehat. Ternyata kita memang harus berteman dengan stres supaya tidak lanjut menjadi depresi. Jadi lebih bisa menjaga sehat mental memang kalau bisa kelola stres dengan bijak.

    BalasHapus
  18. Buku yang luar biasa kak, jujur kita tak pernah terlepas dari masalah itu benar dan selamat ya kak atas bukunya

    BalasHapus

Posting Komentar