cerita mbun

Bedah Buku Tuntas Emosi. Orang Tua Perlu Tahu!


Dalam mendidik anak, selain asupan makanan, penting juga untuk membangun psikis yang baik dan sehat. Psikis anak yang sehat perlu dikenalkan oleh orang tua yang juga sudah selesai dengan inner child nya dan tuntas emosinya.

Kita juga perlu meng-upgrade diri dengan keilmuan agar bisa melengkapi kecerdasan emosional untuk anak. Dalam kesempatan ini, bersyukur aku mengikuti acara launching dan bedah buku dari Griya Parenting Official pada bulan Februari yang lalu. Bukunya sangat bagus, yang berjudul Tuntas Emosi yang mengupas tentang parenting dan pernikahan.

Buku ini ditulis oleh dua orang praktisi pendidikan dan psikologi, Ani Christina dan Diah Mahmudah. Buku setebal 188 halaman ini pertama kali dibuka oleh pemaparan dari Diah Mahmudah tentang Secure Attachment.

Apa itu Secure Attachment?

Secure Attachment adalah salah satu indikator yang menandakan seseorang itu sudah tuntas emosi. Ikatan emosional antara orang tua dan anak sudah terjalin dengan baik secara alami yang dapat kita bangun sejak anak masih kecil.

Apa Saja Ciri-ciri Orang Memiliki Secure Attachment?

  • Memiliki rasa kepercayaan (trust)
  • Memberikan respon adaptif ketika ditinggalkan
  • Memiliki keyakinan bahwa seseorang (figur attachment) layak dicintai. 
Bayi dengan secure attachment akan menjaga Ayah dan Ibunya selama waktu bertemu saat setelah berpisah. Sedangkan, pada kita orang tua yang memiliki secure attachment akan menjaga hubungan yang baik dan langgeng serta senang membagikan perasaannya kepada orang lain.

“Keterikatan yang aman (secure attachment) dengan Ibu dan Ayah cenderung meningkatkan kompetensi sosial anak (kapasitas berperilaku, kognitif dan emosional dalam melayani pencapaian tujuan pribadi di berbagai konteks sosial) di luar keluarga.” –(Fernandez et al., 2019).

Apa yang Terjadi Jika Anak Tidak Memiliki Secure Atachment?

  • Menjadi tidak patuh
  • Tidak bahagia
  • Berdebat dengan orang yang tidak biasa bagi seusianya
  • Ketidakmampuan untuk tersenyum
  • Sering menangis sejadi-jadinya
  • Tidak tertarik bermain game interaktif dengan orang tuanya atau anak-anak lain
  • Menghabiskan banyak waktu untuk menghibur diri sendiri
  • Mudah jengkel
  • Mengalami tantrum
  • Menghindari kontak fisik dengan pengasuh
  • Tidak ada kontak mata
  • Tidak mampu mengungkapkan emosi hati nurani

Reactive Attachment Disorder ini bahaya sekali jika tidak segera diselesaikan saat masih kecil. Ternyata bisa berdampak dalam jangka waktu yang panjang. Seperti merasa depresi, agresif, kepercayaan diri rendah, gelisah dan stres.

Bedah Buku Tuntas Emosi

Bunda Diah Mahmud bercerita bahwa ada seorang kliennya yang karirnya bagus, mempunyai jabatan yang tinggi di sebuah perusahaan Internasional. Anaknya juga memiliki nilai akademis yang baik.

Namun, ternyata kliennya ini merasa hatinya kering dan sering menangis sendirian. Merasa kesepian, sulit berdaya dan susah tidur. Hal tersebut menjadi bermasalah dengan suami dan anak.

Pernah gak kamu kalau lagi stress jadi kurang nafsu makan? Atau malah makannya berlebihan? Bisa jadi apa yang terjadi dalam diri karena kamu belum tuntas emosi. Apa yang terjadi pada klien tersebut juga bentuk salah satu fenomena tidak tuntas emosi. 

Fenomena Tidak Tuntas Emosi

Banyak sekali fenomena yang tanpa kita sadari berdampak pada pola asuh dan pernikahan. Kita jadi lebih emosional mudah marah sama anak dan pasangan.

Kerasnya Hati Karena Kurang Sentuhan Ibu 

Jika anak yang kurang mendapatkan sentuhan seorang Ibu, maka dia akan menjadi anak yang suka marah, keras kepala, sulit memahami orang lain dan kurang empati. Kalau anak kita ada tanda-tanda seperti ini, coba kita lebih banyak sentuhan lagi sama anak.

Lemahnya Jiwa Karena Jauh dari Ayah

Jika ayah tidak hadir dalam pendidikan anak, mereka akan mengalami pengendalian emosi. Anak jadi bertingkah semaunya dengan dalih “namanya juga anak-anak”. padahal bukan karena itu, karena dia sering diabaikan oleh Ayahnya. 

Sosok Ayah ini penting banget ya. Beruntung Aqlan punya sosok Ayah yang selalu ada dan hadir buat Aqlan kalau lagi libur. Jangan lupa ajak anak-anaknya melakukan kegiatan bareng sama Ayah. Sesederhana makan bareng.

Muramnya Hidup Akibat Perundungan Bertubi

Menjadi tidak percaya diri akibat komentar negatif tentang tubuhnya. Merasa ada yang salah. Dalam kasus perundungan ini bisa jadi pelaku atau korban.

Rendahnya Empati Karena Kesepian

Orang tua yang jarang mengajak ngobrol anaknya, akan membuat anak merasa kesepian. Ia akan mencari perhatian ke handphone dengan melihat media sosial. Merasa bisa berekspresi melalui handphone, jadinya anak betah berlama-lema dengan handphone sehingga menjadi kecanduan.

Anak juga jadi berontak tidak mau sekolah dan tidak bisa akur dengan adiknya. Lebih memilih handphone daripada mengobrol dengan keluarga.

Susahnya Bahagia Karena Penuh Prasangka

Orang yang menaruh prasangka akan menjadi pribadi yang negatif. Sepasang suami istri bercerai karena prasangka dan tidak terbuka satu sama lain. Jadi susah bahagia karena perkembangan emosinya yang tidak tuntas. Harus diselesaikan dulu emosinya meskipun sampai sekarang aku juga masih berproses.

Bagaimana Cara Menuntaskan Emosi?

Kalau tidak tuntas bahaya banget ya banyak dampaknya seperti yang sudah dijelaskan di atas. Buku ini hadir sebagai solusi cara menuntaskan emosi. Baik di dunia pernikahan maupun parenting. Dilanjutkan dengan bunda Ani Christina dalam pemaparan cara menuntaskan emosi.

Jawabannya ada di dalam buku ini yang selesai dalam waktu dua tahun dengan segala dinamikanya. Buku ini terbagi ke dalam 5 BAB pembahasan sebagai berikut. 

Cara menuntaskan emosi

Pendidikan Keluarga untuk Mengembangkan Kecerdasan Emosi

Dalam buku ini memegang prinsip,
  • Raise your child, raise yourself

Dalam buku ini dijelaskan jika kita sedang membuat anak kita cemerlang, sejatinya kita juga sedang membuat diri kita cemerlang. Tidak hanya mengembangkan kecerdasan emosi anak, tetapi kecerdasan emosi orang tua juga. Karena buku ini tidak hanya untuk pendidikan anak, tetapi pendidikan orang tua. 

  • Pendidikan bertahap, tidak tergesa, tidak terburu, optimal pada waktunya
Buku ini memiliki konsep pendidikan dalam Islam. Tahapan perkembangan dalam usia dini, usia pra-baligh dan usia baligh dengan pendekatan yang ditawarkan.

  • Pendidikan tuntas emosi di usia dini
Membahas tentang perkembangan emosi anak usia dini, permainan sebagai stimulasi emosi, hewan peliharaan pengasah cinta dan kasih sayang dan bahasa sebagai media pengembangan bahasa. Serta karakteristik emosi, indikator dan stimulasi pengembangan emosi anak usia dini.

  • Pendidikan tuntas emosi di usia pra baligh
Perkembangan anak usia pra baligh, kelola empati, cerdas emosi dengan pengendalian diri dan mengasah nurani. Peran lingkungan, membangun emosi positif anak, pembiasaan dan indikatornya.

  • Pendidikan tuntas emosi di usai baligh
Dalam usia baligh ini mencakup capaian emosi anak,  proses pencapaian ketuntasan dan menetapkan jati diri.

  • Tuntas emosi surga menanti
Membangun Self Love dan Self Healing, membangun peran dalam keluarga, menjalani roda kehidupan dengan jiwa yang tenang.
 

Penutup


Dalam mendidik anak perlu pengembangan emosi yang baik dan positif. Bukan hanya anak, kita sebagai orang tua juga perlu pengembangan emosi agar tuntas emosinya.

Buku Tuntas Emosi hadir sebagai panduan kita dalam mendidik anak. Inti dari buku ini adalah tentang ketenangan jiwa kita mengelola emosi dalam berkeluarga. Gimana nih Bun, tertarik untuk membacanya?







Related Posts

6 komentar

  1. Sangat menarik sekali sepertinya aku harus belajar dari buku tuntas emosi. Sepertinya ini akan mempengaruhi kesehatan mental anak jika kita saja belum tuntas emosi ya.

    BalasHapus
  2. buku yang bagus untuk membantu memanage kesehatan mental orang tua dan anak, terima kasih kak

    BalasHapus
  3. baru baca yang buku tuntas motorik nih, ternyata ada seri tuntas emosi. Perlu banget nih buku ini apalagi sebagai ibu tuh kadang emosi suka naik turun huhu..semangat buat kita para ibu

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan lagi naik turun mbak, tapi roller coaster hahah

      Hapus

Posting Komentar