Dulu, saat belajar sejarah di bangku sekolah, Kartini selalu diceritakan sebagai perempuan yang berani berpikir berbeda. Sosok yang haus akan ilmu, yang memiliki mimpi besar, dan yang memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Dari pelajaran sejarah tersebut aku berasumsi bahwa Kartini ini sosok yang senang belajar dan ambisius. Berkat usahanya terbukalah jalan bagi perempuan di Indonesia untuk menggapai mimpinya, bisa bekerja dan berkarya, serta menentukan jalannya sendiri seperti yang kita rasakan sekarang.
Namun yang kita rayakan setiap tahun adalah Kartini yang identik dengan kebaya. Jadi kalau hari kartini tiba, para siswa maupun pekerja memakai kebaya untuk memperingatinya. Disertai dengan berbagai macam lomba dan perayaan.
Tidak ada yang salah dengan event tahunan tersebut. Dengan begitu kita selalu ingat akan perjuangannya. Sosok tak pantang menyerah menjadi acuan kita untuk terus semangat menjalani hari yang terasa semakin sulit.
Tapi di balik semua perayaan itu, ada satu pertanyaan yang perlahan muncul dalam pikiranku.
Apakah Kartini harus selalu kuat?
Apakah perempuan juga harus selalu terlihat baik-baik saja, padahal banyak hal yang ia pendam sendiri?
Realita yang Tidak Selalu Ramah pada Perempuan
Dulu aku pikir jadi Kartini itu harus selalu kuat dan hebat. Padahal Kartini juga manusia. Mungkin Kartini hari ini tidak selalu kuat, tapi yang terus berjalan meski fisik dan hari terasa lelah.Kartini hari ini adalah Kartini yang tetap mengurus rumah dan anak, yang tetap terus bekerja dan tetap merawat dirinya sendiri walau jalannya tak selalu mudah. Kita sering kali tidak punya waktu untuk benar-benar berhenti, tapi tetap mencari cara untuk bertahan.
Kartini tahun ini, ada banyak peristiwa yang membuat hatiku terasa lebih berat sebagai perempuan. Ada dua kejadian yang sangat memilukan terjadi pada perempuan.
Pertama, kasus daycare yang bermasalah di Yogyakarta. Hati ibu mana yang tidak perih melihat anaknya diasuh dengan cara yang tidak manusiawi. Sebagai ibu aku marah dan kesal. Aku ingin oknum semua dihukum seberat-beratnya.
Luka psikis anak tidak bisa sembuh dalam sekejap. Perasaan ibu meninggalkan anak saja sudah sangat merasa bersalah, apalagi tahu anaknya selama ini diperlakukan dengan tidak baik. Diikat dan ditelanjangi agar bisa tidur dengan diam.
Belum lagi kejadian kecelakaan kereta yang melibatkan gerbong khusus wanita. Lagi-lagi, perempuan menjadi bagian dari cerita yang menyisakan luka.
Ditemukan ASIP milik korban sangat membuat hatiku menangis pilu. Aku yang sedang menyusui merasa relate dengan melihat kantong asip yang tidak sampai pada bayinya. Menyusui saja sudah sangat melelahkan, apalagi dengan pompa saat bekerja.
Pertama, kasus daycare yang bermasalah di Yogyakarta. Hati ibu mana yang tidak perih melihat anaknya diasuh dengan cara yang tidak manusiawi. Sebagai ibu aku marah dan kesal. Aku ingin oknum semua dihukum seberat-beratnya.
Luka psikis anak tidak bisa sembuh dalam sekejap. Perasaan ibu meninggalkan anak saja sudah sangat merasa bersalah, apalagi tahu anaknya selama ini diperlakukan dengan tidak baik. Diikat dan ditelanjangi agar bisa tidur dengan diam.
Belum lagi kejadian kecelakaan kereta yang melibatkan gerbong khusus wanita. Lagi-lagi, perempuan menjadi bagian dari cerita yang menyisakan luka.
Ditemukan ASIP milik korban sangat membuat hatiku menangis pilu. Aku yang sedang menyusui merasa relate dengan melihat kantong asip yang tidak sampai pada bayinya. Menyusui saja sudah sangat melelahkan, apalagi dengan pompa saat bekerja.
Dari berbagai peristiwa itu, aku semakin sadar bahwa menjadi perempuan itu tidak mudah. Bukan hanya tentang peran yang harus dijalani, tapi juga tentang pilihan-pilihan sulit yang sering kali tidak sepenuhnya berpihak pada kita.
Sosok Kartini yang kuat tersebut membuat kita mengharuskan kuat juga seperti beliau. Padahal ada masanya kita sedang tidak baik-baik saja.
Tulisan ini bukan untuk membuat kamu jadi pantang menyerah, tapi mengajak untuk istirahat. Gapapa kok untuk “berhenti sejenak“ dari rutinitas yang padat dan melelahkan.
Perempuan nggak harus selalu kuat, perempuan boleh menangis. Setiap hari kita menjalankan banyak peran. Ada malam-malam panjang, di mana bukan hanya kurang tidur yang terasa, tapi juga pikiran yang tidak berhenti berjalan.
Semenjak jadi ibu, hatiku mudah terenyuh, apalagi soal anak. Bayangkan ketika kita menjadi "dunia" bagi anak, sudah bukan mikirin diri sendiri lagi, tapi ada anak yang pengennya sama kita terus.
Kartini Juga Manusia yang Bisa Lelah
Tulisan ini bukan untuk membuat kamu jadi pantang menyerah, tapi mengajak untuk istirahat. Gapapa kok untuk “berhenti sejenak“ dari rutinitas yang padat dan melelahkan.
Perempuan nggak harus selalu kuat, perempuan boleh menangis. Setiap hari kita menjalankan banyak peran. Ada malam-malam panjang, di mana bukan hanya kurang tidur yang terasa, tapi juga pikiran yang tidak berhenti berjalan.
Semenjak jadi ibu, hatiku mudah terenyuh, apalagi soal anak. Bayangkan ketika kita menjadi "dunia" bagi anak, sudah bukan mikirin diri sendiri lagi, tapi ada anak yang pengennya sama kita terus.
Ada rasa bahagia yang tidak tergantikan, tapi juga ada lelah yang sering kali datang bersamaan.
Di sela menyusui dan di tengah kurang tidur, aku belajar satu hal penting kalau kuat itu bukan berarti tidak pernah jatuh.
Padahal ada satu hal yang sering luput, yaitu bertahan. Perempuan sering kali bertahan dalam diam dan tanpa tepuk tangan. Tanpa ada yang tahu seberapa berat yang kita rasakan.
Di sela menyusui dan di tengah kurang tidur, aku belajar satu hal penting kalau kuat itu bukan berarti tidak pernah jatuh.
Melanjutkan Perjuangan Kartini Sebagai Ibu
Selama ini, kita sering mengagungkan pencapaian besar. Fokus pada keberhasilan yang kita raih.Padahal ada satu hal yang sering luput, yaitu bertahan. Perempuan sering kali bertahan dalam diam dan tanpa tepuk tangan. Tanpa ada yang tahu seberapa berat yang kita rasakan.
Berikut hal yang bisa kita lakukan untuk melanjutkan Kartini hari ini:
1. Bertahan meski Lelah
Bertahan itu tidak mudah. Bangun setiap pagi saat hati masih berat, melanjutkan hari meski energi terasa habis dan tetap memilih untuk tidak menyerah, itu juga bentuk keberanian.Mungkin Kartini hari ini bukan lagi tentang perempuan yang selalu kuat. Bukan juga tentang mereka yang terlihat hebat di mata banyak orang. Tapi tentang perempuan-perempuan biasa, yang menjalani hari dengan segala keterbatasannya. Tetap berjalan walau langkahnya pelan.
2. Menjalankan Peran dengan Versi Terbaik Kita
Tidak harus sempurna. Cukup dengan melakukan yang kita bisa semampunya.
3. Memberikan Kasih Sayang, walau Diri Butuh Dipeluk
Merawat anak dan keluarga, sambil tidak lupa merawat diri sendiri.
4.Mengizinkan Diri Sendiri untuk Istirahat
Sebagian ibu ada yang merasa bersalah jika melakukan hal yang dia senangi. Padahal melakukan me time bagi ibu penting untuk re-charge energi.
5. Menjaga Kesehatan Mental Ibu
Menjaga keseimbangan psikis ibu adalah kunci pengasuhan yang baik untuk menciptakan generasi yang berkualitas. Anak-anak yang hebat berawal dari pengajaran di rumah
6. Mengembangkan Skill
Menjadi ibu bukan berarti mengubur mimpi kita. Justru ini adalah kesempatan untuk kita terus bertumbuh. Tanpa kita sadari, kita pun ikut tumbuh bersama anak.
Bagaimana pun kondisinya, ibu hatus terus belajar agar cerdas untuk dirinya juga untuk mendidik anak. Ketahanan keluarga dimulai dari keluarga yang hangat.
Terima kasih masih bertahan meski lelah. Terima kasih telah memilih untuk hidup, meski tidak selalu mudah. Dan mungkin, tanpa kita sadari, di situlah makna Kartini itu hidup.
Penutup
Hari ini, kalau kamu merasa lelah dan merasa tidak sekuat yang seharusnya tidak apa-apa. Setelah jadi ibu aku jadi lebih kuat tapi banyak takutnya.
Kita tidak harus selalu kuat untuk tetap berarti. Kadang, cukup dengan bertahan saja itu sudah lebih dari cukup.
Kita juga sedang tidak berlomba dengan siapapun. Jadi diri sendiri jauh lebih menenangkan daripada harus mengikuti standar orang lain yang kita sendiri sulit menggapainya.
Disitulah Kartini versi kita hari ini berada. Bagaimana versi Kartini menurutmu? Sharing di kolom komentar yuk!
Disitulah Kartini versi kita hari ini berada. Bagaimana versi Kartini menurutmu? Sharing di kolom komentar yuk!












Posting Komentar
Posting Komentar