cerita mbun

Haruskah Ulang Tahun Anak Dirayakan? Apa Maknanya?

1 komentar
Makana ulang tahun anak
Sumber: pixabay


Sebentar lagi Aqlan ulang tahun pada bulan Januari. Setiap bulan Januari itu pula aku teringat lagi bagaimana melahirkan Aqlan dengan rasa sakit lebih dari 48 jam. Mengenang kembali momen-momen haru itu membuat aku kembali bersyukur karena masih diberi keselamatan dan kesempatan untuk menjaga, merawat dan mendidik Aqlan dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Waktu berlalu begitu cepat. Sadarkah sih kok rasanya cepat banget dan 24 jam terasa kurang? Setiap hari sat sit set layaknya setrikaan yang mondar mandir dengan hiruk pikuk setiap hari. Heactic terus setiap hari, nggak gila juga udah bersyukur, begitu kata-kata yang aku lihat di story teman dengan dua orang anak laki-laki yang super aktif. 

Cape juga terus dijalani aja ya Bun? Tidak ada yang bisa menggantikan kebahagiaan ini. Sekaran tidak berasa 1 bulan lagi usia Aqlan 3 tahun. Sudah makin besar, terlihat dari seberapa pandainya dia merespon kami dan fisik yang sudah melebihi batas jendela ruang tamu kami.

Kalau anak kecil yang ulang tahun, kelihatan bertambah usianya ya? Tapi kalau sudah dewasa justru terlihat bukan bertambah usia malah berkurang usianya. Ya, memang hakikatnya seperti itu tapi kok bisa terlihat berbeda makna gitu ya?

Makna Perayaan Ulang Tahun Versi Aku

Dari semenjak Aqlan ulang tahun pertama, kami tidak pernah merayakan ulang tahun meski hanya sepotong kue dan lilin di atasnya. Kami hanya mengucapkan selamat ulang tahun dan mendoakannya semoga ia tumbuh sesuai namanya, yaitu menjadi manusia yang bijaksana.

Terkadang aku sendiri masih bingung apakah perlu aku mengucapkan ulang tahun sementara aku sendiri tidak merayakannya? Apakah ucapan masih perlu walau dengan prinsip tidak merayakan? Ahh sudahlah, kata ulang tahun sendiri memang sudah tertanam di memori kita sejak kecil kalau kita mengulang tanggal di bulan yang sama saat kita lahir dulu, yang perlu diucapkan hanya selamat ulang tahun.

Untuk apa dirayakan ya? Kalaupun beli kue, Aqlan yang saat itu belum aku kenalkan coklat juga tidak mungkin memakannya. Bisa jadi habis olehku yang menyukai kue ulang tahun.

Aku sih oke-oke aja kalau mau dirayakan jika ada dananya, tapi mungkin tidak di usia 1 tahun karena anak juga belum paham. Namun hal tersebut tentu bertentangan dengan prinsip suami yang BIG NO untuk tidak merayakan.

Menurutnya merayakan ulang tahun bukan budaya kita dan sejatinya hanya doa yang bisa menembus langit. Suami tidak ingin memberikan perayaan yang sifatnya sementara, namun ingin memberi sesuatu yang sifatnya melekat, yaitu rasa syukur itu sendiri.

Kamu bisa melihat video suami yang mendokumentasikan bentuk ulang tahun Aqlan sebagai bentuk pengingat Aqlan kelak sudah bisa menentukan arah kehidupan.

 Video

Meskipun cuma simbolis atau apalah, kami melewatkannya dengan tanpa perayaan. Begitupun dengan ulang tahun kami masing-masing. Tidak pernah ada kue buat aku.

Padahal aku pernah minta sendiri pengen dibeliin kue, wkwkwk. Namun lagi-lagi cara suami memaknai ulang tahun berbeda dengan kebanyakan orang. Diam-diam suami selalu membelikan barang sesuai dengan kebutuhan aku alih-alih dia membuat perayaan atau membelikan kue.

Biasanya suami akan mengajak kami makan di luar sebagai bentuk "perayaan" versi kami, ya hanya berdua saja ketika belum ada Aqlan. Setelah ada Aqlan tentu kami kemana-mana selalu bertiga. Saat aku butuh sesuatu, pas banget momennya suami beri di hari ulang tahunku. Meski tidak mengatakannya secara langsung, namun aku tahu maksud dari suamiku membelikan barang yang aku butuhkan sebagai bentuk hadiah dari ulang tahun.

Ulang Tahun Sebagai Bentuk Rasa Syukur dan Berbagi

Setiap orang punya perayaan ulang tahun masing-masing. Ada yang merayakan dengan pesta meriah dengan properti yang mendukung atau hanya sekedar jalan-jalan dan makan di luar seperti kami.

Mau dirayakan atau tidak sah-sah saja selama ada dananya, haha. Tapi, momen perayaan ulang tahun menurutku lebih ke prinsip bukan melulu soal budget, walau tidak dipungkiri membuat pesta tentu harus asa budget-nya.

Aku juga teringat tetangga di dekat rumah mama, ada sebuah keluarga yang terbilang cukup kaya dan termasuk tokoh masyarakat. Kalaupun dia mau membuat pesta ulang tahun itu bisa banget karena dananya yang cukup untuk pesta yang sangat meriah. 

Namun siapa sangka ternyata tetangga Mama ini memiliki prinsip untuk tidak merayakan ulang tahun sebagai bentuk mendidik anak dari anaknya ini alias cucunya untuk menabung.
"Daripada bikin acara ulang tahun lebih baik ditabung saja uangnya untuk masa depannya seperti dana pendidikannya kelak". 
Ahhhh bener juga batinku. Kenapa ada orang kaya yang sederhana begini tanpa memamerkan kekayaan berkedok pesta ulang tahun ehhh. Gini, karena banyak juga yang hidupnya pas-pasan tapi malah memaksakan untuk bikin pesta ulang tahun anak. Ini yang tidak boleh ya Bun, karena hanya akan menyusahkan diri kita dan keluarga. 

Kalau buat aku, ulang tahun itu adalah momen intim keluarga yang lebih baik dirayakan juga bersama keluarga saja. Kalau tidak ada momen ulang tahun kayanya akan terus menjalani hari dengan seperti biasanya. Namun karena ada tanggal ulang tahun ini sebagai pengingat untuk lebih bersyukur lagi.

Masih dengan Prinsip atau Sekedar Ikut-Ikutan Tren?

Saat aku kecil aku merasakan perayaan ulang tahun yang dirayakan oleh orang tua, sodara dan teman-temanku. Betapa senangnya aku saat itu memiliki kado yang banyak. Meski hanya sederhana tapi itu sudah terasa mewah. Meski tidak semewah teman-temen SD ku yang merayakannya di sebuah restoran ayam terkenal. 

Pengalaman membawaku punya makna yang berbeda terkait dengan ulang tahun ini. Terkadang ada rasa ingin merayakan sama seperti aku kecil dulu.

Tiba-tiba Mama mengirim pesan kepadaku kalau Mama ingin membuatkan tumpeng untuk Aqlan ulang tahun. Mama akan ke Karawang untuk merayakan ulang tahun cucunya yang ke-3 tahun.

Betapa senangnya aku, Mama seolah tahu hati kecilku yang sedang gundah, ingin turut "merayakan" ulang tahun anak. Jadilah aku mencari properti di e-commerce sebagai pelengkap momen ulang tahun. 

Sudah berhasil aku masukkan keranjang, uang dari ngeblog aku cukup rasanya untuk membeli properti dan bahan untuk memasak tumpeng dan kue ulang tahun. Sip! Hanya untuk keluarga kecil kami saja, tak perlu mengundang banyak tamu.

Saat semua udah oke, tiba-tiba suami memberi kabar kalau sebentar lagi di akan resign karena masa kerjanya sudah tidak diperpanjang lagi. Mulai berhenti kerja tepat pada bulan Januari saat Aqlan ulang tahun.

Yaa Allah, aku seperti diingatkan kembali dengan niat dan tujuan kami sedari awal tentang pemaknaan ulang tahun ini. Rasanya nggak etis kita merayakan ulang tahun justru saat suami kehilangan pekerjaan. Baiknya uangnya ditabung toh?

Tapi, ya dasar aku mesti aja ada momen bersama. Aku ganti perayaan tersebut menjadi farewell suami yang akan resign. Kan biasanya gitu kan kalau ada teman kantor yang akan resign? Mereka akan "menagih" farewell dengan makan-makan, haha.

"Yang, nanti Aqlan ulang tahun kita makan di restoran S yuk, udah lama aku nggak makan di sana. Ajak Ika dan Jenal juga (adik iparku dan suaminya). Kangen sama ayam Mozarella dan kwetiawnya. Sekalian farewell aa baru resign dari kantor, hehe". 

Kesimpulan

Dalam Islam tidak ada hukumnya untuk perayaan ulang tahun anak. Tidak disunnahkan apalagi wajib. Namun menurutku jika ingin merayakan harus dengan tujuan baik dan bukan riya'.

Setiap orang tua punya perayaan ulang tahun anak yang berbeda. Namanya buah hati, kita sebagai orang tua pasti ingin memberikan hal yang baik. Namun jangan lupa ingat prioritas dan kepentingannya akan menimbulkan kebaikan atau malah mendatangkan kemudorotan.

Tulisan ini tidak mengkreditkan sesuatu, hanya curahan hati penulis saja. Semoga apa yang aku mau di ulang tahun Aqlan bisa terwujud.

Related Posts

1 komentar

  1. Ulang tahun tidak harus di rayakan, tapi boleh di peringati bersama keluarga untuk refleksi diri karena umur semakin bertambah dan waktu di dunia semakin berkurang

    BalasHapus

Posting Komentar