Mungkin orang lain melihatnya berlebihan, tapi bagi kami siapa yang tak haru ketika bayi kecil kami yang dulu kami gendong kini sudah mulai belajar mandiri di sekolah. Yang orang lain lihat anak 5 tahun yang sudah mandiri, sedangkan yang kami lihat adalah bayi yang dulunya merangkak dan menangis ketika tak ada kami di sampingnya.
Sebelum memilih sekolah pertama Aqlan, kami sempat bingung. Mulai dari usia berapa Aqlan sekolah dan di mana Aqlan akan bersekolah? Dari usia 4 tahun kami sudah mulai mencari tahu sekolah mana yang cocok untuk kebutuhan Aqlan yang aktif dengan mengesampingkan ego kami.
Ternyata dari usia 4 tahun sudah bisa mulai sekolah dengan masuk TK A selama dua tahun. Tapi kami memilih mengenalkan TPQ terlebih dahulu dengan mendaftarkan ke TPQ terdekat. Yang tadinya niat hanya mengenalkan, ternyata Aqlan bisa mengikuti pelajaran dan mulai belajar murojaah. Ketika Aqlan TK B tahun ini, dia jadi lebih siap sekolah dengan aturan yang bahkan tidak kami ajarkan dari awal.
Setiap orang tua punya caranya sendiri menyiapkan anak sekolah. Tentunya kami juga ingin memberikan yang terbaik bagi anak, dengan melalui pertimbangan yang matang. Sehingga kebutuhan anak dan kemampuan kami sebagai orang tua bisa sejalan.
Ada yang sudah nonton Sky Castle? Bahkan para orang tua ambis ini sudah menentukan masa depan anak dengan menyusun strategi termasuk di mana ia bersekolah semenjak anak anak lahir.
Aku nggak akan bahas drama Korea tersebut, tapi aku ingin membagikan pengalaman kami bagaimana tips memilih TK untuk anak yang tepat sesuai kebutuhan anak dan value keluarga serta kenapa akhirnya kami memilih sekolah tersebut.
Setiap orang tua punya caranya sendiri menyiapkan anak sekolah. Tentunya kami juga ingin memberikan yang terbaik bagi anak, dengan melalui pertimbangan yang matang. Sehingga kebutuhan anak dan kemampuan kami sebagai orang tua bisa sejalan.
Ada yang sudah nonton Sky Castle? Bahkan para orang tua ambis ini sudah menentukan masa depan anak dengan menyusun strategi termasuk di mana ia bersekolah semenjak anak anak lahir.
Aku nggak akan bahas drama Korea tersebut, tapi aku ingin membagikan pengalaman kami bagaimana tips memilih TK untuk anak yang tepat sesuai kebutuhan anak dan value keluarga serta kenapa akhirnya kami memilih sekolah tersebut.
Pengalaman MPLS Pertama Abang
Menyekolahkan anak adalah belajar mengikhlaskan anak.Begitulah kata kepala sekolah saat sedang rapat. Beliau mengingatkan kita untuk ikhlas melepas anak sekolah. "Di sini kami akan mendidik dan mengajarkan kemandirian pada anak. Ikhlaskan supaya kami bisa lebih leluasa untuk mengajar." Beliau kembali menegaskan karena minggu MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) masih banyak orang tua yang mengintip anaknya sekolah padahal sekolah sudah melarang untuk tidak menunggu anak.
Minggu pertama masih dimaklumi karena masih masa pengenalan. Jika sudah normal aturan tetap berlaku dan wajib dipatuhi. Sempat sedih ketika tiba-tiba Aqlan minta ditemani gara-gara masih ada saja yang ditemani. Aku menjelaskan kalau yang ditemani itu mereka yang usianya masih 4 tahun, Abang sudah besar, sudah bisa sendiri dan di sana pun aku hanya duduk saja menunggu.
Niatnya memang selama MPLS ini aku akan menunggu, tapi ada jadwal imunisasi adik dan aku melihat Abang sudh bisa ditinggal. Aku juga ingin melatih Abang mandiri. Jadi hanya dua hari saja aku temani ketika hari senin dan Jumat saat rapat orang tua.
Persiapan masuk TK juga sudah menguras energi. Aku mencoba ikhlas dan menitipkan Aqlan pada guru-gurunya.
Cara Memilih TK yang Tepat
Buat kami memilih sekolah TK tidak bisa sembarangan dan asal pilih. Karena sekolah TK merupakan pondasi dasar tempat pembentukan karakter anak. Aku tidak sepakat jika ada yang mengatakan kalau sekolah di mana saja sama yang penting bagaimana orang tua mendidiknya.Orang tua dan guru punya peran penting masing-masing. Keduanya harus sinkron dan seimbang dalam mendidik anak. Makanya kami tidak mau asal apalagi soal pendidikan.
Berdasarkan pengalaman TK saat kecil dulu yang aku ingat, sekolah TK yang baik buat aku semangat ke sekolah dan mudah beradaptasi.
1. Kenali Kebutuhan dan Karakter Anak
Kenali karakter anak dan kebutuhan sekolahnya. Apakah dia tipe pemalu atau mudah beradaptasi di lingkungan baru? Suka belajar atau bermain dan bagaimana metode belajarnya?Aqlan juga senang berlari dan aktif. Sehingga membutuhkan ruangan terbuka yang lebih luas atau media bermain yang banyak. Media permainan juga menjadi pertimbanganku memilih sekolah. Dia senang belajar dengan metode yang banyak bermainnya, soalnya dia mudah bosan.
2. Jangan Hanya Melihat Nama Besar Sekolah
Awalnya aku juga ingin mendaftarkan Aqlan ke sekolah yang terkenal di sini. Dari fasilitas rasanya semua sempurna dan lengkap. Tapi apakah semua menjawab kebutuhan Aqlan?Belum lagi biaya yang sangat mahal, buat kami dana pendidikan yang mahal ini lebih baik kami save untuk jenjang berikutnya, karena masih ada SD, SMP, SMA dan kuliah. Rasanya sayang kalau uang yang mau punya di alokasikan semua untuk TK. Tapi, kalau ada uangnya ya nggak jadi masalah juga sih, hehe.
Melihat di media sosial banyak teman juga yang mendaftarkannya ke sekolah yang sejenis di kota yang berbeda. Entah ini sudah menjdi tren atau memang sesuai kebutuhan anak. Tapi semoga memang sesuai dengan value keluarganya.
Aku tidak mau memaksakan juga jika memberatkan kami, karena reputasi bukan satu-satunya faktor untuk menyekolahkan anak. Maka dari itu kami memilih RA (Raudhatul Athfal) setara dengan TK (Taman Kanak-Kanak) yang berlandaskan ajaran Islam sebagai dasar pendidikannya dan dikelola oleh Kementerian Agama.
3. Perhatikan Kurikulum dan Metode Belajar
Di sekolah yang kami pilih, eksplorasi, bermain dan akademi berjalan seimbang. Sebenarnya anak TK tidak dianjurkan untuk harus bisa calistung. Tapi jujur aku juga ingin anak sekolah bisa calistung. Nah, bagaimana sekolah bisa membuat anak bisa calistung tanpa paksaan dan tanpa membuat itu jadi satu-satunya tujuan.Saat rapat orang tua murid, kepala sekolah menjelaskan bahwa mereka menggunakan Kurikulum yang diberi nama “Cinta”. Suasana kelas dan guru dibuat semenarik mungkin, sehingga anak tidak mudah bosan dan merasa tertekan selama pembelajaran. Rasanya mereka seperti sedang bermain, padahal sambil belajar juga.
Karena memang bermain adalah hal yang masih dibutuhkan oleh anak usia dini. Bermain adalah dunianya. Kadang kita meremehkan anak bermain, padahal dengan bermain an belajar banyak hal.
4. Lihat Lingkungan Sekolah
Perhatikan lingkungan sekolah juga, apakah aman atau tidak bagi anak. Hal yang sering luput dari pertimbangan seperti kebersihan, keamanan, ruang bermain, ventilasi dan toilet anak.Awalnya kami ragu menyekolahkan Aqlan di sini meski visi dan misi sudah sesuai, karena lokasi sekolah di pinggir jalan raya utama. Ada rasa was-was takut anak-anak bermain ke jalan, karena banyak kendaraan yang lalu lalang.
Namun, kepala sekolah menegaskan bahwa gerbang selalu dikunci. Anak-anak juga tidak dibiarkan keluar sembarangan. Kalau belum di jemput wali, anak juga tidak dibiarkan pulang begitu saja, ditemani hingga ada yang menjemput.
Pasti pihak sekolah juga sudah memikirkan keamanan lebih dulu, jadi aku tidak lagi khawatir soal ini.
5. Kenali Guru-gurunya
Guru merupakan faktor penting dalam proses belajar. Apalagi anak TK, tentu harus mempunyai background pendidikan yang mumpuni. Mendidik anak yang belum mandiri, tentu jauh lebih sulit.Guru TK yang hangat dan selalu ceria akan lebih disukai anak-anak. Guru menjadi tempat cerita yang bisa diandalkan bagi anak-anak. Karena selama proses belajar, guru pendampinglah yang akan selalu menemani.
Aku suka sekali vibes guru-guru di sini. Vibes positif dan selalu ceria. Begitu masuk gerbang, anak sudah disambut dengan hangat oleh para guru. Begitu pun saat pulang sekolah.
6. Pertimbangkan Jarak dari Rumah
Perjalanan terlalu jauh ke sekolah bisa membuat anak cepat lelah. Maksimal 15 menit jarak yang ditempuh.Aku juga sempat ragu soal jarak. Jarak sekolah Aqlan dari rumah cukup jauh untuk ukuran anak TK sekitar 4 kilometer, melewati dua TK dan 2 PAUD.
Setelah bertanya pada teman dan guru, jarak ini masih aman ditempuh anak karena banyak juga alumni yang rumahnya cukup jauh. Aku kira aku sudah paling jauh, ternyata masih ada yang lebih jauh lagi. Khawatir takut Aqlan kelelahan di jalan. Setiap hari bertanya cape atau tidak, jawabnya tidak. Semoga Allah mudahkan terus prosesnya.
7. Sesuaikan dengan Finansial Keluarga
Ini yang tak kalah penting untuk persiapan masuk TK. Sekolah yang banyak diminati oleh orang tua murid sekarang adalah sekolah yang memiliki biaya cukup mahal. Jangan sampai kita memaksakan ingin sekolah yang terbaik untuk anak namun memberatkan finansial kita dan bikin uang keluarga jadi berantakan.Pilih opsi tengah-tengah cari sekolah yang baik untuk anak dengan biaya yang bisa dijangkau. Jika belum mampu sekolah dengan biaya yang mahal jangan dipaksakan. Sebagai orang tua kita juga harus bijak mengelola keuangan.
Kesimpulan
Memilih TK untuk anak ternyata bukan sekadar mencari sekolah yang paling bagus atau paling terkenal. Yang jauh lebih penting adalah menemukan sekolah yang sesuai dengan karakter anak, nilai yang diyakini keluarga, dan kemampuan finansial orang tua.
Dari proses mencari informasi, berdiskusi dengan suami, hingga akhirnya mengantar Aqlan di hari pertama sekolah, aku belajar bahwa tidak ada sekolah yang benar-benar sempurna. Yang ada adalah sekolah yang paling tepat untuk kebutuhan anak kita
Dari proses mencari informasi, berdiskusi dengan suami, hingga akhirnya mengantar Aqlan di hari pertama sekolah, aku belajar bahwa tidak ada sekolah yang benar-benar sempurna. Yang ada adalah sekolah yang paling tepat untuk kebutuhan anak kita
Kini setiap pagi melihat Aqlan berangkat sekolah dengan semangat membuat rasa haru itu berubah menjadi rasa syukur. Ternyata benar, menyekolahkan anak bukan hanya tentang mengantar mereka belajar, tetapi juga tentang belajar mengikhlaskan mereka tumbuh sedikit demi sedikit.
Semoga pengalaman kami ini bisa menjadi referensi bagi Ayah dan Bunda yang sedang mempersiapkan sekolah pertama untuk buah hati. Apa pun pilihan sekolahnya nanti, semoga menjadi tempat terbaik bagi anak untuk belajar, bermain, dan bertumbuh menjadi pribadi yang berakhlak baik.
Sumber:
https://hijra.id/blog/articles/lifestyle/memilih-sekolah-tk-untuk-anak/
https://hijra.id/blog/articles/lifestyle/memilih-sekolah-tk-untuk-anak/












Posting Komentar
Posting Komentar