cerita mbun

Makna yang Berbeda

 


July is my day. Kini usiaku 27 tahun. Rasanya baru kemarin aku mengganti sampul buku tulisku di teras rumah bersama mama. Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Aku si anak kecil cengeng dan pengadu kini sudah bisa mengurus anak sendiri, hehe.

Resolusi demi resolusi selalu aku buat tiap tahunnya. Agar semangat menjalani hari-hari dan punya goals tertentu. Meski selalu meleset, tak apa. Setidaknya aku selalu punya harapan. Yaa...harapan menjadi penting tatkala manusia dihadapkan dengan keadaan-keadaan yang tak sesuai kehendak.

Bulan kelahiranku selalu bertepatan dengan liburan sekolah. Sehingga harapan dikejutkan oleh teman-teman sekolah adalah mustahil. Yaa, dulu aku berharap kalau ulang tahun ingin dikejutkan oleh teman sekolahku, haha.

Teman sekolah sudah tidak ada dalam list, kini harapanku tertuju pada teman sepermainan di rumah. Aku berharap dikejutkan oleh mereka atau hanya sekedar memberi ucapan yang aku ceritanya lupa akan hari ulang tahunku, hahaha. Konyol sekali dulu cara berpikir bocah yang kekanakan ini.

Selain berharap diberi surprise, aku juga berharap ada yang memberi kue dan hadiah. Seiring beranjak dewasa, harapan dikejutkan sudah hilang, tapi harapan diberi kue dan hadiah oleh orang yang spesial masih ada, hahaha. 

Apalagi ketika sweet seventeen tiba, haduh rasanya ingin sesuatu yang indah terjadi agar bisa dikenang sepanjang masa sampai anak cucu kelak, halaaah. Tapi apa yang terjadi yaa? Ini aku sambil mengetik berusaha mengingat, tapi payahnya aku sudah lupa apa yang terjadi saat itu, wkwkwk. 

Next, setelah menikah tentu masih ada harapan dong. Ingin digombalin saat ulang tahun oleh suami, apalagi sampai di posting itu rasanya pasti seneng banget. Dan untungnya suami peka yaa, kalau gak dilakukan mungkin takut akan ada uvo terbang di dapur alias piring terbang.

Sangat bahagia ketika sesuatu yang tidak terduga terjadi. Saat itu, aku ulang tahun setelah satu tahun pernikahan kami. Oiya, hari pernikahan kami bertepatan dengan hari ualng tahunku. Meski tidak tepat karena beda 2 hari, tapi aku anggap sama aja. Biar perayaannya sekalian, gak dua kali kan, hihi.

Senangnya aku digombalin saat ulang tahun, diajak nonton, makan dan dibelikan buku. Receh ya? Padahal itu sesuatu hal yang biasa. Yang suami juga lakukan meski aku tidak ulang tahun. Tapi ketika ada harapan, dan itu berlangsung saat ulang tahun, rasanya senang sekali. Seperti momen sangat spesial dan diistimewakan.

Tahun kedua, sudah hilang rasa itu. Di tahun ini lebih ke pasrah sih tapi masih ada berharap-berharapnya sedikit. Berharap di posting kata-kata gombal, wkwkwk. Tak lupa di tag ke akun media sosialku. Tetep yaa 😂

Naaah dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini ada yang berbeda. Aku sedikit merenung dengan kehidupanku. Rasanya di tahun ini yaudahlah yaaa, mengalir aja. Tahun ini aku juga gak posting apa-apa yang menunjukkan kalau aku sedang ulang tahun. Aku malah gak posting apa-apa seharian. Itu berarti ga ada ucapan. Jadi tahu kan siapa yang benar-benar ingat ulang tahun kita atau yang cuman balas komentar ulang tahun aja, hehe.

Tapi sedihnya kok gak ada ucapan dari suami, mama dan adikku yaa? Pada kenapa yaa, udah kaya Mahen aja Pura-Pura Lupa, hehe. Masa suami lupa sih atau sengaja ya? Mukanya gak ada tanda-tanda mau ngucapin selamat gitu. Malah kaya yang bad mood aja. Kalau mama, karena sedang sakit jadi kayanya gak bisa ngucapin. Tapi masih bisa whatsapp kan huhu disitu sedih banget rasanya. Keluar sifat manja dan kekanakannya.

Masih pengen dapet ucapan dari orang terdekat. Iya hanya orang terdekat aja. Suami dan orang tua. Tapi aku tepis pikiran itu. Katanya tahun ini biasa aja, tapi kok masih ada harapan itu meski sedikit? Harusnya tulus dan ikhlas dong.

Selang berapa hari saat kami sedang makan malam, aku iseng menanyakan kenapa dia gak mengucapkan ulang tahun di sela-sela candaan kita. Apa dia lupa? Jawaban suami bikin aku tertegun.

"Inget dong, mana mungkin aku lupa hari pernikahan dan ulang tahun kamu. Aku tuh lagi mikir mau bikin apa yaa, bikin foto dan video gitu kan udah sering. Kali ini aku pengen bikin yang berbeda. Lagian nih ya Yang, doa dari aku itu yang lebih penting dari sekedar ucapan. Kamu gak tau aja, saat kamu tidur aku elus kepala kamu sambil berdoa yang terbaik buat kamu dan rumah tangga kita. Aku selalu berdoa setiap hari. Makna nya lebih luas dibanding hanya ucapan".

Emang sih, sebelum suami bilang begitu aku pun merasa tahun ini adalah tahun yang ucapan dan hadiah adalah bonus aja. Yang terpenting adalah nikmat apa yang Allah kasih selama ini buat aku. Allah baik banget udah kasih Aqlan dalam hidup kami. Nah, semenjak ada Aqlan ini lah aku jadi memaknai ulang tahun yang berbeda dengan tahun sebelumnya. Seharusnya aku juga gak sedih ketika orang terdekat gak ngucapin.

Mereka udah pasti inget, tapi mereka memberi ucapan dan hadiah dengan cara yang berbeda. Cara mereka sendiri. Tanpa harus dipamerkan di sosial media. Di 27 tahun ini pun aku merasa, kue, foto bersama dan di posting di media sosial tidaklah membuat aku merasa bangga dan bahagia. Justru kayanya aku jadi malu sendiri sekarang, hehe. 

Aku juga ga tau kenapa yaa aku jadi merasa seperti ini, apa karena bentuk pendewasaan diri atau karena yang terjadi itu-itu aja. Yang tadinya harapan, jadi bosen gitu. Ini bukan berarti judge mereka yang posting kebersamaan ulang tahun ya, tidak sama sekali. Karena aku pun mengalami fase ini di tahun sebelumnya. 

Kalau sekarang mikirnya yang penting sehat, apalagi sekarang sedang gencarnya penyebaran virus Covid-19. Nikmat sehat dan berkumpul bersama keluarga aja itu udah jadi hal yang berarti dan membahagiakan. Harmonisnya rumah tangga dan semua urusan lancar aja itu harus banget disyukuri. Pokoknya nikmat yang aku rasakan buat aku merenungi apa yang terjadi selama 27 tahun dalam hidup ini.

Saat ulang tahun itu aku lebih banyak muhasabah daripada posting ulang tahun. Dan untuk pertama kalinya, aku gak posting tentang ulang tahun. Hebat yaa, hehehe. 

Tentang ulang tahun ini, sejak Aqlan lahir kami sepakat ketika Aqlan 1 tahun kami tidak akan merayakan pesta ulang tahun seperti kebanyakan orang lakukan. Kami ingin memberi makna pada Aqlan bahwa ulang tahun adalah momen berbagi bersama. Kami ingin mendidik Aqlan agar selalu rendah hati dan sederhana.

Saat sedang muhasabah tersebut tiba-tiba suami manggil, "Yang, kamu handphone nya mau warna apa? Ini mau checkout". Waahhh ternyata suamiku menepati janjinya membelikan handphone baru. Dan aku anggap ini sebagai hadiah, hahaha. 


Kesimpulan

27 tahun ini aku ingin lebih mensyukuri apa yang telah Allah beri untuk keluarga kami. Menikmati apa yang sedang terjadi. Lebih tenang seperti lagunya teh Yura Yunita. Intinya berjalan aja, ngalir aja. Saling mendukung, melengkapi, menghargai. Agar cinta kami selalu tumbuh setiap harinya. 

Ada yang lebih bermakna dari sekedar ucapan, kue dan hadiah. Yaitu bentuk cinta dan kasih sayang serta tanggungjawab suami terhadap keluarga. Kasihnya setiap hari mampu mengalahkan ucapan yang hanya diucap satu tahun sekali.

Lebih enak dikasih nafkah yang setiap hari kan daripada hadiah yang satu tahun sekali. Aku dan suami kalau ada yang dibutuhkan tinggal bilang saja. Yang jelas barangnya kita butuhkan dibanding hadiah yang mungkin kita tidak terlalu perlukan. 

Jadi jangan baper ya diri, kalau gak ada yang ngucapin. Justru kamu beruntung punya begitu banyak doa. Doa yang lebih indah dari sekedar ucapan "Selamat Ulang Tahun".

Related Posts

Posting Komentar