cerita mbun

Pertama Ku Jumpa

Alhamdulillah. Bersyukur tiada henti atas semua perjuangan yang kita lewati bersama. Meski kita tahu bahwa ini bukan akhir dari sebuah perjuangan, tapi ini adalah awal perjalanan kehidupan kita. Terima kasih sudah menjaga apa yang harus dijaga. Terima kasih sudah memilih aku dari sekian perempuan yang ada di bumi ini. Terima kasih sudah percayakan aku sebagai pendamping hidupmu dan pendidik anak-anakmu kelak. Seperti kata Asma Nadia di salah satu novelnya “kamu mencuri mimpi-mimpiku dan aku suka”. Ya aku suka karena mimpimu, mimpiku juga. Visi dan misimu, sama sepertiku. Bismillah, kita percaya dengan pernikahan kita, akan menjadi kekuatan untuk apa yang sedang kita bangun.

Sayang, saat ini statusmu sudah berubah menjadi seorang suami, begitupun aku masih tak menyangka kalau aku sudah menjadi seorang istri. Sebuah gelar yang paling istimewa karena ada hak-tanggungjawab didalamnya.  Hasil dari kesabaran yang panjang, tak pernah lelah meminta kepada-Nya. Rasanya lega, senang sekali, haru campur aduk jadi satu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau akan jadi istri dalam waktu dekat ini, walau sudah berencana. Waktu terus berjalan, sampai tiba saatnya kau ucapkan akad itu. Memang benar, semua akan ada waktunya, di waktu yang indah.

Pernikahan banyak merubah aku, merubah yang lebih baik pastinya. Aku, yang tidak pernah masak, sekarang berubah jadi chefnya suami. Segala pekerjaan rumah, sudah menjadi rutinitas baruku setiap hari. Tapi anehnya, itu semua tidak menjadi beban buatku, malah aku senang bisa melakukannya. Terlihat sederhana, tapi senangnya luar biasa. Senang kalau suami lahap makan, bajunya rapi dan nyaman dirumah. Itu sebuah prestasi sendiri. Meskipun jadi seorang istri tidak ada sekolahnya.

Banyak sekali yang bertanya, “gimana ceritanya bisa bertemu sama dia?”. Karena banyak teman-teman yang gak menyangka saat aku beritahu bahwa aku akan menikah. Mungkin karena aku yang terlalu lama sendiri dan aku yang tidak memberitahu banyak orang bahwa aku sudah di khitbah. Sebenarnya aku malu untuk cerita. Tapi, baiklah aku kembali mengingat kejadian 4 tahun lalu, 2014. Saat itu aku masih kuliah dan aku kos bersama teman-teman dari Karawang. Katakanlah seperti sekret, kami menyebutnya ASPI KMIK (Asrama Putri Keluarga Mahasiswa Islam Karawang). Kosan serbaguna, yang mana selain untuk tempat kami melepas lelah juga digunakan tempat rapat dan diskusi setiap malamnya, atau hanya sekedar silaturahmi kumpul bersama semua mahasiswa yang berasal dari Karawang.

Tepatnya aku lupa tanggal dan bulan berapa, yang jelas saat itu malam hari kita sedang rapat. Banyaknya tugas dari kampus membuat aku tidak fokus sama rapat itu. Aku rapat sambil mengerjakan tugas di laptop. Mataku fokus tertuju ke laptop. Sampai tiba saat setelah selesai rapat, kakak kelasku mengenalkan seseorang kepada kita semua. Dan ternyata, dia. Rudi Badrudin.  Aku cuek saja karena di grup Whatsapp pun sudah dikenalkan. Lalu, kakak kelasku bilang kepadaku bahwa dia juga jurusan Hukum sama sepertiku, hanya kami beda kampus. Dalam hati aku merasa senioritas, tau apa sih dia soal hukum, ya walaupun dia sudah menyelesaikan S1 nya di Karawang. Tapi, kalau hukum dia mulai dari awal lagi. Ternyata aku salah besar soal hukum ini.

Dia mulai percakaapan dan bilang “jurusan hukum juga teh?”. Aku masih mengetik dan dengan mukaku yang jutek aku menjawab “iya”. Lalu, dia tanya lagi “Semester berapa?”. “lima” jawabku masih dengan sikap yang cuek dan nada yang terkesan ketus. Tapi, diam-diam aku mulai lihat mukanya. Kok rasanya senang sekali ya bisa lihat mukanya. Sebenarnya, ada dia itu menyenangkan. Tapi, karena aku gak bisa ekspresif jadi terasa menyebalkan. Dan karena aku yang menyembunyikan perasaan, jadi suasana terasa hambar dan tidak mencair. Karena aku tak ingin menunjukkan perasaanku.

Setelah bertemu dia, keesokannya tak ada perubahan yang spesifik. Dari hari kehari, hanya saling berbagi informasi terkait hukum via whatsapp. Monoton. Meski dia hanya sharing informasi, aku senang sekali dia whatsapp sampai aku screenshoot chatnya. Dan aku masih tetap balas dengan ketus, singkat dan padat. Diam-diam, aku mendoakannya. Sampai suatu ketika, permintaan itu datang. Setelah aku chat di grup “Selamat buka puasa dengan yang halal, karena manis belum tentu sayang dan yang sayang belum tentu halal”. Dan sampai saat ini kata-kata itu yang menjadi candanya kita.

Chatnya dia yang aku ingat terus adalah “Fida udah ada yang khitbah?”. Berkali-kali aku melihat handphoneku, ku lihat lagi dengan teliti, meyakinkan aku tidak salah baca. Kukucek mataku, pesannya tetap tidak berubah. Dalam hati aku senang sekali, bahkan sampai aku cek berulang kali. Sampai aku minta pendapat mama, apa yang harus aku lakukan. Mama tersenyum dan bilang balaslah pesan itu dengan baik. Aku yakin Allah selalu mengabulkan doa hambanya. Tapi aku tak pernah menduga rasanya akan senyata ini. Aku membalas dengan mengatakan aku belum ada yang khitbah, lalu dia menyampaikan maksud dan niat baik tersebut. Kali ini, senyumku tak bisa disembunyikan lagi. Rasanya hati ini ikut melonjak-lonjak kegirangan.

Aku mengatakan jika ingin izin mengkhitbahku itu ke mama, karena mama yang memutuskan. Dan mama nanti yang akan memberi restu. Maka, setelah Hari Raya Idul Fitri 2016, dia siaturahmi menyampaikan niat baiknya tersebut. Betapa gugupnya aku saat itu. Ini pertama kali kita bertemu, bukan karena ada acara organisasi. Tapi untuk menemui keluargaku. Karena bertemu dia tidak lebih dari 3 kali, dan sudah sangat lama tidak bertemu lagi, lucunya aku sampai menebak-nebak bagaimana rupanya sekarang. Aku sampai lupa dan mencoba mengingat-ingat dia seperti apa. Detak jantung ini tidak beraturan menunggu kedatangannya. Membayangkan dia akan mengutarakan maksudnya.

Dan alhamdulillah, mama memberi kita restu. Tidak bisa diungkapkan betapa bahagianya hati ini. Mama pun sama tidak menyangka bahwa aku akan secepat ini ada yang mengkhitbah. Segala sesuatunya kita persiapkan untuk acara lamaran. Acara lamaran pun dilaksanakan setelah Idul Fitri, 7 Juli 2017. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Dia dengan gagahnya datang bersama keluarganya. Membawa janji suci penuh harap. Mempersatukan dua keluarga. Banyak doa-doa yang dipanjatkan. Dan ucapan selamat dari dua keuarga besar, membuat suasana menjadi semakin haru.

Barakallah, akhirnya niat baik kita terwujud. Alhamdulillah Allah selalu mudahkan prosesnya. Setelah Idul Fitri juga, tepatnya 8 Juli 2018 aku sah menjadi istri Rudi Badrudin. Orang yang tak pernah berinteraksi denganku, tapi selalu ada dalam doaku. Setelah akad, kita saling tatap tidak percaya dan mengucap syukur alhamdulillah. Karena faktanya, dia pun sama seperti ceritaku diatas. Diam-diam memperhatikanku. Dan diam-diam aku ada di dalam doanya.

Tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, orang yang asing dalam hidupku tiba-tiba jadi satu atap bahkan satu tempat tidur. Dan rasa ini akan tetap sama. Boleh gak rindu terus setiap hari?




Your Wife










Related Posts

Posting Komentar